HUBUNGAN
SALAT DENGAN PENYUCIAN JIWA
Dudung Abdul Rohman
Fakultas Tarbiyah Jurusan PAI (B)
Salat, menurut
ketentuan sufi, selain dilakukan dengan penuh kesadaran, juga sangat sarat
bermakna dengan hal-hal batiniah (kehadiran hati) dalam tiap gerakannya. Untuk
menjadikan salat kita mencapai tingkat tertinggi, maka haruslah ada persiapan,
baik itu persiapan lahiriah maupun batiniah. Segala yang meliputi lahiriah
terlebih dahulu diperkatakan karena setiap penilaian berasal dari hal-hal yang
kelihatan dan diakhiri dengan hal-hal yang abstrak untuk lebih memudahkan
masuknya pengertian. Seharusnya salat itu mencegah dari perbuatan keji dan
mungkar, bahkan bisa membawa seseorang kearah jalan menuju ketaqwaan kepada
Allah Swt. Akan tetapi, tidak sedikit orang yang melakukan salat menjadi
berprilaku sesuai yang diharapkan, itu disebabkan karena mereka belum memahami
arti salat yang sebenarnya sehingga tidak mengetahui apa tujuan dari salat itu
sendiri. Maka dengan itu disini akan menjelaskan bagaimana caranya agar
menerapkan kesucian jiwa dalam kehidupan sehari-hari dengan melaksanakan salat
yang khusu ?. Ketika seseorang telah mengetahui bahwa salat itu mencegah dari
perbuatan keji dan mungkar, serta dapat memahami makna salat dengan baik dan
benar, maka orang tersebut telah menguasai jiwanya dengan sempurna, karena itu
kehidupannya menjadi aman, nyaman, tentram, dan terarah sehingga mendapatkan
kebahagiaan dunia dan akhirat.
Kata
Kunci : Salat, Jiwa, Lahiriah, Batiniah.
A.
Pendahuluan
1.
Latar
Belakang Masalah
Keteguhan di dalam melaksanakan salat sangatlah
perlu karena dalan hadis Nabi diterangkan :
,,sesungguhnya
seseorang kamu apabila dia berdiri waktu salat ia berbicara dengan tuhannya
atau tuhan ada diantara dia dengan kiblat” (H.R Bukhari : 244)
Dalam hal ini jelas bahwa untuk menghindari
timbulnya kepincangan dalam melaksanakan salat, maka sudah tentu harus mengetahui
tahap-tahap pelaksanaan salat.
Berdiri yang baik pada saat melaksanakan salat yaitu
tidak merapatkan kedua kaki dan tidak terlalu melebarkannya. Kedua kaki
hendaklah lurus menghadap kiblat dengan tenang. Apabila berdirinya telah lurus,
maka demikian pula seluruh anggota tubuhnya telah lurus, sambil menghadap arah
kiblat, hendaklah membaca surah an-Nas untuk membentengi diri dari gangguan
setan. Al-Ghazali (1986 : 34-43)
https://www.facebook.com/Catatan-Kita-Penjelajah-Ilmu-763661170387621/
https://www.facebook.com/Catatan-Kita-Penjelajah-Ilmu-763661170387621/
Salat menurut ketentuan sufi, selain dilakukan
dengan penuh kesadaran, juga sangat sarat dengan hal-hal yang bermakna batiniah
(kehadiran hati) dalam setiap gerakannya. Ada beberapa hal yang harus
diperhatikan ketika menghadirkan batiniah saat melaksanakan salat, diantaranya
:
a. Khudurul
Qaib, kehadiran hati; artinya hati kita dikosongkan dari segala sesuatu kecuali
Allah Swt.
b. Tafakhum,
memahami apa yang kita baca.
c. Takdzim,
penghormatan atau pengagungan; mengagungkan Allah Swt.
d. Haibah,
sifat yang melebihi takdzim; kalau takut kepada Allah maka harus disertai
dengan haibah dan pengagungan kepadanya.
e. Ra’ja,
pengharapan; pengharapan dari Allah Swt.
f. Haya,
rasa malu; atas dosa dan kekurangan dalam melaksanakan kewajiban. Al-Ghazali (
1986 )
Untuk mendapatkan salat yang bermanfa,at dan dapat
menerapkan hasilnya didalam kehidupan sehari-hari, maka harus memahami
kekhusuan dan berbagai permasalahannya, karena nilai dan kualitas ibadah salat
seseorang bergantung pada kekhusuannya. Semakin tinggi tingkat kehusuan maka
semakin besar kemungkinan diterima oleh Allah Swt.
Untuk menjadika salat mencapai tingkat tertinggi,
maka haruslah ada persiapan, baik itu lahiriah maupun batiniah. Segala yang
meliputi lahiriah terlebih dahulu diperkatakan, karena setiap penilaian berasal
dari unsur yang kelihatan dan diakhiri dengan hal yang abstrak yang demikian
lebih memudahkan masuknya pengertian.
Dengan mengacu pada pendapat itu, maka hal yang
pertama menjelaskan sikap lahiriah. Ada beberapa hal atau persiapan yang perlu
diperhatikan di dalam melaksanakan salat, diantaranya:
a) Persiapan
ilmu, harus mengetahui makna yang dibaca, disarankan untuk mengetahui hal
tersebut, carilah buku tentang tata cara salat yang benar. Baca dan pelajari
dengan sungguh-sungguh, jangan sungkan untuk bertanya pada ahlinya.
b) Tidak
tergesa-gesa dalam berwudhu, karena makna terpentingnya yaitu menjadi bagian
pembersih jiwa dan diantara hikmahnya yaitu menggugurkan dosa-dosa kecil.
Selanjutnya tidak tergesa-gesa sewaktu beribadah, dalam arti luasnya adalah
jangan tergesa-gesa hati melakukan rukun demi rukun, mengucapkan ucapannya, sehingga
tidak timbul kesukaran untuk menghadirkan hati.
c) Pakaian,
pastikan pakaian yang kita pakai harus baik dari segi bahan maupun
kepemilikannya.
d) Persiapan
tempat, perhatikan sajadah, hendaklah bersih dan upayakan harum atau setidaknya
jangan sampai sajadah bergambar atau setidaknya akan mencuri konsentrasi.
Usahakan selalu salat berjamaah ketika hendak pergi ke mesjid, dan salat
sunatnya dilaksanakan dirumah.
e) Persiapan
waktu, biasakan berwudhu sebelum adzan tiba, dan perlu diketahui bahwa amalan
yang paling utama dalam pandangan Allah Swt adalah salat tepat pada waktunya.
Ahmad Syafi’i ( 2008)
2.
Rumusan
Masalah
Dalam hal ini berdasarkan latar belakang masalah
dapat disimpulkan permasalahan ,,Bagaimana
caranya agar menerapkan kesucian jiwa dalam kehidupan sehari-hari dengan
melaksanakan salat yang khusu ?”
3.
Tujuan
Adapun
tujuan makalah ini adalah untuk mengetahui dan menjelaskan (mendeskripsikan)
bagaimana caranya agar menerapkan kesucian jiwa dalam kehidupan sehari-hari
dengan melaksanakan salat yang khusu.
B.
Pembahasan
1.
Salat
,,Serangkaian ucapan dan gerakan
tertentu yang dimulai dengan takbir dan diakhiri dengan salam sebagai ibadah
ritual”.Ahmad Sarwat (2010)
,,Salat adalah cahaya, sebagaimana
cahaya bisa menyinari, maka demikian pula salat dapat menunjukkan kepada
kebenaran, mencegah dari maksiat dan mencegah dari perbuatan keji dan mungkar”.Abu
Ziyad (2007)
,,Dirikanlah
salat. Sesungguhnya salat itu mencegah dari (perbuatan) keji dan mungkar. Dan
sesungguhnya mengingat Allah (salat) adalah lebih besar (keutamannya dari
ibadah-ibadah lain). Dan Allah maha mengetahui apa yang kamu kerjakan”. (Q.S Al-Ankabut
[29] :45)
Jadi
salat merupakan suatu hal yang sangat penting terhadap kehidupan seseorang,
selain itu ibadah salat lebih utama dibandingkan dengan ibadah-ibadah yang
lainnya, dan pada akhirnya ketika
salatnya khusu maka akan mendapatkan perlindungan dari Allah Swt yaitu tercegah
dari perbuatan keji dan mugkar sehingga mendapatkan kehidupan yang bahagia,
baik di dunia maupun di akhirat kelak.
2.
Jiwa
Al-Amru bis-su’ (menyuruh kepada kejahatan), dalam safwat at tafassir 2/57 diterangkan
bahwa tafsir surat yusuf ayat 53 yaitu
sekali-kali aku tidak akan membersihkan jiwaku, karena jiwa manusia itu selalu
cenderung pada syahwat.
Demikianlah bahwa sifat manusia selalu cenderung
kepada syahwat, kecuali jiwa yang senantiasa di didik oleh sang empunya, maka
ia cenderung kepada kebaikan atau sifat baik.
Al-Laum (menyesali diri sendiri) surat Al-Qiyamah
ayat 2 menerangkan tentang kriteria jiwa seorang mukmin yaitu menyesali dirinya
sendiri. Itulah jiwa yang selalu merasa dengan kejelekan dirinya sehingga ia
bisa menjaga dan mengendalikan kehendaknya.
Ath;Thumaninah (jiwa yang tenang) surat Al Fajr
27-30 dalam tafsir Al -Jami’ li Ahkamil
Qur’an 20/57-58, “yang dimaksud dengan jiwa yang tenang ialah jiwa yang
merasa tentran dengan keyakinan bahwa Allah Swt adalah Rabb-nya, dan karena
keyakinan itu senantiasa meluluhlantahkan dirinya dengan ketundukan kepada
Allah Swt. Itulah seorang mukmin yang benar, yang apabila Allah mengambil
ruhnya (meninggal) jiwanya merasa tenang dan tentram menghadap Allah, demikian
pula sebaliknya Allah merasa senang ketika berjumpa dengannya”. Imam
Al-Qurthubi (TT)
Al-Izwajiyah (dua kecenderungan) dalam tafsir fi dzilali Al-Qur’an “sifat dua
kecenderungan yang dimiliki oleh manusia menjadikannya mampu untuk mengerjakan
hal kebaikan atau keburukan atau memberikan kebebasan untuk memilih antara
keduanya. Namun atas dasar kebebasan tersebut itu, kelak akan dihisab di hari kiamat”. Sayyid
Qhutub (TT:6/3917).
Al-Qudrah (mampu menanggung beban), Allah Swt
membekali jiwa manusia untuk cenderung mengerjakan kebaikan, agar manusia mampu
dan tenang dalam mengerjakan kebaikan tersebut. Allah Swt berfirman yang
artinya “Allah tidak akan membebani seseorang melainkan sesuai dengan
kemampuannya”. ( Al Hafidz Imam Ibnu Katsir:TT:1/324)
At Thawi (menganggap enteng setiap perkara), dalam
tafsir Al-Jami li Ahkamil Qur’an “sifat
jelek manusia yaitu menganggap enteng setiap perkara. Ia selalu mendorong
manusia untuk berbuat kejahatan sehingga menganggap bahwa perbuatan jahat
adalah perkra yang mudah,tidak berakibat fatal bagi diri dan kehidupan
seseorang”. Imam Al-Qurthubi (TT:6/138)
Jadi dalam jiwa manusia ada beberapa kriteria
tentang jiwa manusia, jika memilih jiwa yang baik maka baiklah segala
kehidupannya sehingga mencapai apa yang dikehendakinya. Namun sebaliknya, jika
memilih jiwa yang cenderung kepada keburukan maka buruklah segala perbuatannya.
3.
Analisis
Dalam
hal ini, akan dianalisis tentang judul yang dibuat yaitu hubungan salat dengan penyucian jiwa untuk lebih memahami makna
judul yang dibuat, demi terciptanya pemahaman pembaca.
Dalam
mempersiapkan salat, diantaranya harus memiliki sikap dzahir dan batin yang
seimbang, diantaranya :
a. Takwa,
yaitu acuan tempat untuk menghasilkan kekhusuan, dengan taqwa kita bisa
membentengi diri dari segala hal yang dapat menjauhkan diri dari sang pencipta.
Ahmad Syafi’I mengatakan dalam bukunya bahwa “takwa itu ialah suatu paksaan sikap untuk melahirkan takut,
merendahkan diri serta ta’at melakukan kewajiban”.
b. Keinginan
niat dan keputusan hati, dalam artian bahwa harus memfokuskan diri pada tujuan
yang akan dilaksanakan, yaitu salat.
Jiwa manusia
diciptakan oleh Allah Swt untuk mengerrjkan kebaikan atau keburukan,
sebagaimana firman-Nya:
“Dan
jiwa serta penyempurnaan (ciptaan-Nya) maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu
(jalan) kefasikan dan ketaqwaan” Q.S (Asy-Syams
:7-8)
Seharusnya salat
itu mencegah dari perbuatan keji dan mungkar, bahkan bisa membawa seseorang ke
arah jalan menuju ketakwaan kepada Allah Swt. Akan tetapi, tidak sedikit orang
yang melakukan salat tidak semuanya menjadi berprilaku sesuai yang diharapkan.
Itu disebabkan karena mereka belum memahami apa arti salat yang sebenarrnya,
sehingga tidak mengetahui bahkan belum paham apa makna dan pelaksanaan dan
tujuan salat itu sendiri. Ketika seseorang telah mengetahui bahwa salat itu
mencegah dari perbuatan keji dan mungkar, serta dapat melaksanakan salatnya
dengan khusu, maka orang tersebut telah menguasai jiwanya dengan sempurna,
karena itu kehidupannya menjadi tentram sehingga mendapatkan kebahagiaan.
Ada beberapa hal
yang perlu diperhatikan agar kita bisa menyeimbangkan antara hubungan salat
dengan penyucian jiwa, diantaranya:
1) Mengetahui
rahasia salat, yaitu a) khudurul Qaib
(kehadiran hati); b) tafakhum (memahami apa yang kita baca); c) takdzim
(penghormatan atau pengangungan kepada Allah Swt); d) haibah (sifat yang
melebihi takdzim yaitu takut kepada Allah Swt disertai pengangungan kepadanya);
e) ra’ja (pengharapan dari Allah Swt); f) haya (rasa malu atas dosa dan
kekurangan dalam melaksanakan kewajiban).
2) Mengetahui
Ilmu Salat
“Man a’mala bighairih ilmi amaluhu mardudatun
laa tuqbala” (Al-Hadis). Barangsiapa yang beramal tanpa ilmu, maka amalnya
tidak diterima dan tidak memberi manfa’at. Maksud ilmu disini adalah ilmu
(pengetahuan) tentang syarat dan rukun salat, tata cara salat nabi, sunah-sunah
dalah salat, dan hal-hal yang membatalkan salat. Oleh karena itu, bagi yang belum
mengkaji tentang fiqh salat, bersegeralah untuk mengkajinya.
Selain itu juga,
harus mengetahui keutamaan salat. Selain ilmu fiqh salat, perlu diketahui
tentang ilmu fadhail salat (ilmu keutamaan salat). Ilmu yang memberi ruh dan
motivasi dalam pelaksanaan salat. Orang yang mengetahui tentang keutamaan salat
tentu akan berbeda semangatnya dengan orang yang tidak tahu sama sekali tentang keutamaan
salat, fungsi salat, dan lain-lain. Fenomena salat diakhir waktu, salat secepat
kilat, tergesa-gesa, salat terasa menjadi beban, adalah salahsatu akibat tidak
memiliki ilmu fadhail salat.
3) Berwudhu
dengan Baik
Wudhu termasuk
syarat sahnya salat. Dianjurkan untuk belajar tata caranya, syarat rukunnya,
dan sebagainya. Selain daripada itu juga kita perlu mempelajari fadhail wudhu
(keistimewaan wudhu) agar wudhu yang kita lakukan sesuai dengan apa yang
dicontohkan oleh nabi, serta memiliki ruh dan penghayatan wudhu yang baik.
4) Mempersiapkan
Badan, Pakaian, dan Tempat
Ketika menghadap
yang Maha Suci, maka badan, pakaian dan tempat juga harus suci. Suci pakaian,
selain pakaiannya terhindar dari najis, cara mendapatkan pakaiannya juga harus
dengan cara yang halal. Pakailah pakaian yang bagus saat salat, jangan pakai
sembarang baju apalagi memakai pakaian kaos oblong. Suci tempat, selain
tempatnya suci dari najis juga tempatnya penuh dengan muatan suci, yang
dimaksud yaitu mesjid (berjama’ah).
Dengan ketiga persiapan tersebut, Insya Allah salat kita akan menjadi lebih
khusu. Mari senantiasa belajar berusaha untuk meraih salat yang khusu.
5) Salat
yang Khusu dengan Ihsan Ikhlas dan Ittiba
Setelah dapat
melewati semua ini, maka otomatis jiwa akan mendapatkan ketenangan, baik ketika
salat maupunsetelah melaksanakannya. Allah mengingatkan kepada hamba-Nya lima
kali sehari tentang waktu, orang yang khusu dalam salatnya akan efektif
menggunakan waktu, ia tidak mau waktunya sia-sia, karena yakin bahwa waktu
adalah nikmat terbesar yang diberikan oleh Allah Swt kepada manusia. Orang yang
khusu salatnya dilaksanakan dengan tertib, yang berarti bahwa ia cinta kepada
keteraturan dan ketenangan. Salat mengajarkan kepada kita bahwa kesuksesan
adalah milik orang yang mau teratur dalam hidupnya. Banyak cara yang dilakukan
oleh orang agar salat dan ibadahn lainnya supaya bisa melakukannya dengan
khusu, ada pelatihan salat khusu, ada yang memejamkan matanya saat salat. Lalu
apa yang harus dilakukan agar salat khusu, jawabannya hanya tiga, yaitu: a)
Ihsan (merasa dilihat Allah Swt); b) Ikhlas (Untuk Allah Swt); c) Ittiba
(sesuai sunah Rasulullah Saw).
4.
Penutup
1.
Simpulan
a.
Salat
a) Memahami
Ucapan
Suatu Ucapan yang
baik merupakan gabungan dari tiga hal, diikrarkan dengan lidah, ditasdikkan
dengan hati, dan dihayati dengan akal. Maka dengan itu harus mampu menggabungkan
tiga hal tersebut agar ucapan bisa bersamaan dengan hati dan terhindar dari
hal-hal yang dapat mengganggu kekhusuan.
b) Memahami
Adab Gerak
Dalam
pelaksanaaan salat, gerakan-gerakannya harus dipahami, selain daripada ucapan,
karena hal ini juga tidak kalah pentingnya dengan memahami ucapan-ucapan di
dalam salat, untuk memahami itu perlu mencari referensi dari buku atau bertanya
langsung kepada orang yang lenih mengetahui tentang gerakan-gerakan salat yang
baik dan benar. Dengan mengacu pada hal tersebut, asal kita rajin mencari
informasi, maka pemahaman tentang gerakan salat akan dipahami, Insya Allah.
b.
Jiwa
Untuk mempunyai
jiwa yang senantiasa dekat dengan Rabb-Nya, maka harus mempunya sifat-sifat
yang baik, yaitu diantaranya: a) Mengekang jiwa dan menanamkan rasa takut
kepada Allah swt; b) Menanamkan sifat sabar; c) Mukabadatun Nafs (melatih jiwa
menahan derita); d) Membuang sifat kikir; e) Memupuk jiwa denga tawakal.
Metode ini
merupakan cara yang ditempuh oleh tabi’in dalam mentarbiyah jiwanya yang semua
itu merupakan hasil istimbat (kesimpulan) mereka terhadap nash-nash Al-Qur’an
dan Sunah Nabi. Abdul Hamid Al-Bilali (2000:penyucian
jiwa)
2.
Saran
Setelah
terbuatnya makalah ini, maka pembaca diharapkan mendapatkan hal-hal sebagai
berikut: a) menjadikan salatnya mencapai tingkat tertinggi; b) memahami ucapan
dan adab gerak salat; c) mengenal jiwa dan penerapan yang baik tentang jiwa; d)
mengenal metode tarbiyah dalam rangka penyucian jiwa; e) mendapatkan
pengetahuan lebih mendalam tentang pelaksanaan salat dan penyucian jiwa.
Daftar
Pustaka
Al-Bilali, Abdul Hamid. 2000:Penyucian Jiwa Jakarta: Pustaka
Al-Kautsar
Al-Qur’an.2008.Al-Qur’an dan Terjenmahan.Depok:Cahaya Qur’an.
Gymnastiar,Abdullah
dkk,2010:shalat dalam perspektif sufi.Jakarta:Remaja
Rosda Karya.
Sarwat,
Ahmad:2010:Fiqh Salat:di unduh Kamis
12 November 2014 Pukul 2.42 http://bukugratisislam.blogspot.com/2010/10/fiqih.sholat.html.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Setelah membaca, silahakan tinggalkan komentar :)