Selasa, 13 Oktober 2015

HUBUNGAN SALAT DENGAN PENYUCIAN JIWA

HUBUNGAN SALAT DENGAN PENYUCIAN JIWA
Dudung Abdul Rohman
Fakultas Tarbiyah Jurusan PAI (B)
ABSTRAK
Salat, menurut ketentuan sufi, selain dilakukan dengan penuh kesadaran, juga sangat sarat bermakna dengan hal-hal batiniah (kehadiran hati) dalam tiap gerakannya. Untuk menjadikan salat kita mencapai tingkat tertinggi, maka haruslah ada persiapan, baik itu persiapan lahiriah maupun batiniah. Segala yang meliputi lahiriah terlebih dahulu diperkatakan karena setiap penilaian berasal dari hal-hal yang kelihatan dan diakhiri dengan hal-hal yang abstrak untuk lebih memudahkan masuknya pengertian. Seharusnya salat itu mencegah dari perbuatan keji dan mungkar, bahkan bisa membawa seseorang kearah jalan menuju ketaqwaan kepada Allah Swt. Akan tetapi, tidak sedikit orang yang melakukan salat menjadi berprilaku sesuai yang diharapkan, itu disebabkan karena mereka belum memahami arti salat yang sebenarnya sehingga tidak mengetahui apa tujuan dari salat itu sendiri. Maka dengan itu disini akan menjelaskan bagaimana caranya agar menerapkan kesucian jiwa dalam kehidupan sehari-hari dengan melaksanakan salat yang khusu ?. Ketika seseorang telah mengetahui bahwa salat itu mencegah dari perbuatan keji dan mungkar, serta dapat memahami makna salat dengan baik dan benar, maka orang tersebut telah menguasai jiwanya dengan sempurna, karena itu kehidupannya menjadi aman, nyaman, tentram, dan terarah sehingga mendapatkan kebahagiaan dunia dan akhirat.

Kata Kunci        : Salat, Jiwa, Lahiriah, Batiniah.

A.           Pendahuluan
1.    Latar Belakang Masalah
Keteguhan di dalam melaksanakan salat sangatlah perlu karena dalan hadis Nabi diterangkan :
,,sesungguhnya seseorang kamu apabila dia berdiri waktu salat ia berbicara dengan tuhannya atau tuhan ada diantara dia dengan kiblat” (H.R Bukhari : 244)
Dalam hal ini jelas bahwa untuk menghindari timbulnya kepincangan dalam melaksanakan salat, maka sudah tentu harus mengetahui tahap-tahap pelaksanaan salat.
Berdiri yang baik pada saat melaksanakan salat yaitu tidak merapatkan kedua kaki dan tidak terlalu melebarkannya. Kedua kaki hendaklah lurus menghadap kiblat dengan tenang. Apabila berdirinya telah lurus, maka demikian pula seluruh anggota tubuhnya telah lurus, sambil menghadap arah kiblat, hendaklah membaca surah an-Nas untuk membentengi diri dari gangguan setan.  Al-Ghazali  (1986 : 34-43)
https://www.facebook.com/Catatan-Kita-Penjelajah-Ilmu-763661170387621/
Salat menurut ketentuan sufi, selain dilakukan dengan penuh kesadaran, juga sangat sarat dengan hal-hal yang bermakna batiniah (kehadiran hati) dalam setiap gerakannya. Ada beberapa hal yang harus diperhatikan ketika menghadirkan batiniah saat melaksanakan salat, diantaranya :
a.    Khudurul Qaib, kehadiran hati; artinya hati kita dikosongkan dari segala sesuatu kecuali Allah Swt.
b.    Tafakhum, memahami apa yang kita baca.
c.    Takdzim, penghormatan atau pengagungan; mengagungkan Allah Swt.
d.   Haibah, sifat yang melebihi takdzim; kalau takut kepada Allah maka harus disertai dengan haibah dan pengagungan kepadanya.
e.    Ra’ja, pengharapan; pengharapan dari Allah Swt.
f.     Haya, rasa malu; atas dosa dan kekurangan dalam melaksanakan kewajiban. Al-Ghazali ( 1986 )
Untuk mendapatkan salat yang bermanfa,at dan dapat menerapkan hasilnya didalam kehidupan sehari-hari, maka harus memahami kekhusuan dan berbagai permasalahannya, karena nilai dan kualitas ibadah salat seseorang bergantung pada kekhusuannya. Semakin tinggi tingkat kehusuan maka semakin besar kemungkinan diterima oleh Allah Swt.
Untuk menjadika salat mencapai tingkat tertinggi, maka haruslah ada persiapan, baik itu lahiriah maupun batiniah. Segala yang meliputi lahiriah terlebih dahulu diperkatakan, karena setiap penilaian berasal dari unsur yang kelihatan dan diakhiri dengan hal yang abstrak yang demikian lebih memudahkan masuknya pengertian.
Dengan mengacu pada pendapat itu, maka hal yang pertama menjelaskan sikap lahiriah. Ada beberapa hal atau persiapan yang perlu diperhatikan di dalam melaksanakan salat, diantaranya:
a)    Persiapan ilmu, harus mengetahui makna yang dibaca, disarankan untuk mengetahui hal tersebut, carilah buku tentang tata cara salat yang benar. Baca dan pelajari dengan sungguh-sungguh, jangan sungkan untuk bertanya pada ahlinya.
b)   Tidak tergesa-gesa dalam berwudhu, karena makna terpentingnya yaitu menjadi bagian pembersih jiwa dan diantara hikmahnya yaitu menggugurkan dosa-dosa kecil. Selanjutnya tidak tergesa-gesa sewaktu beribadah, dalam arti luasnya adalah jangan tergesa-gesa hati melakukan rukun demi rukun, mengucapkan ucapannya, sehingga tidak timbul kesukaran untuk menghadirkan hati.
c)    Pakaian, pastikan pakaian yang kita pakai harus baik dari segi bahan maupun kepemilikannya.
d)   Persiapan tempat, perhatikan sajadah, hendaklah bersih dan upayakan harum atau setidaknya jangan sampai sajadah bergambar atau setidaknya akan mencuri konsentrasi. Usahakan selalu salat berjamaah ketika hendak pergi ke mesjid, dan salat sunatnya dilaksanakan dirumah.
e)    Persiapan waktu, biasakan berwudhu sebelum adzan tiba, dan perlu diketahui bahwa amalan yang paling utama dalam pandangan Allah Swt adalah salat tepat pada waktunya. Ahmad Syafi’i ( 2008)
2.    Rumusan Masalah
Dalam hal ini berdasarkan latar belakang masalah dapat disimpulkan permasalahan ,,Bagaimana caranya agar menerapkan kesucian jiwa dalam kehidupan sehari-hari dengan melaksanakan salat yang khusu ?”
3.    Tujuan
Adapun tujuan makalah ini adalah untuk mengetahui dan menjelaskan (mendeskripsikan) bagaimana caranya agar menerapkan kesucian jiwa dalam kehidupan sehari-hari dengan melaksanakan salat yang khusu.

B.            Pembahasan
1.        Salat
,,Serangkaian ucapan dan gerakan tertentu yang dimulai dengan takbir dan diakhiri dengan salam sebagai ibadah ritual”.Ahmad Sarwat (2010)

,,Salat adalah cahaya, sebagaimana cahaya bisa menyinari, maka demikian pula salat dapat menunjukkan kepada kebenaran, mencegah dari maksiat dan mencegah dari perbuatan keji dan mungkar”.Abu Ziyad (2007)

,,Dirikanlah salat. Sesungguhnya salat itu mencegah dari (perbuatan) keji dan mungkar. Dan sesungguhnya mengingat Allah (salat) adalah lebih besar (keutamannya dari ibadah-ibadah lain). Dan Allah maha mengetahui apa yang kamu kerjakan”. (Q.S Al-Ankabut [29] :45)
Jadi salat merupakan suatu hal yang sangat penting terhadap kehidupan seseorang, selain itu ibadah salat lebih utama dibandingkan dengan ibadah-ibadah yang lainnya, dan pada akhirnya  ketika salatnya khusu maka akan mendapatkan perlindungan dari Allah Swt yaitu tercegah dari perbuatan keji dan mugkar sehingga mendapatkan kehidupan yang bahagia, baik di dunia maupun di akhirat kelak.
2.         Jiwa
Al-Amru bis-su’ (menyuruh kepada kejahatan), dalam safwat at tafassir 2/57 diterangkan bahwa tafsir surat yusuf ayat 53 yaitu sekali-kali aku tidak akan membersihkan jiwaku, karena jiwa manusia itu selalu cenderung pada syahwat.
Demikianlah bahwa sifat manusia selalu cenderung kepada syahwat, kecuali jiwa yang senantiasa di didik oleh sang empunya, maka ia cenderung kepada kebaikan atau sifat baik.
Al-Laum (menyesali diri sendiri) surat Al-Qiyamah ayat 2 menerangkan tentang kriteria jiwa seorang mukmin yaitu menyesali dirinya sendiri. Itulah jiwa yang selalu merasa dengan kejelekan dirinya sehingga ia bisa menjaga dan mengendalikan kehendaknya.
Ath;Thumaninah (jiwa yang tenang) surat Al Fajr 27-30 dalam tafsir Al -Jami’ li Ahkamil Qur’an 20/57-58, “yang dimaksud dengan jiwa yang tenang ialah jiwa yang merasa tentran dengan keyakinan bahwa Allah Swt adalah Rabb-nya, dan karena keyakinan itu senantiasa meluluhlantahkan dirinya dengan ketundukan kepada Allah Swt. Itulah seorang mukmin yang benar, yang apabila Allah mengambil ruhnya (meninggal) jiwanya merasa tenang dan tentram menghadap Allah, demikian pula sebaliknya Allah merasa senang ketika berjumpa dengannya”. Imam Al-Qurthubi (TT)
Al-Izwajiyah (dua kecenderungan) dalam tafsir fi dzilali Al-Qur’an “sifat dua kecenderungan yang dimiliki oleh manusia menjadikannya mampu untuk mengerjakan hal kebaikan atau keburukan atau memberikan kebebasan untuk memilih antara keduanya. Namun atas dasar kebebasan tersebut itu,  kelak akan dihisab di hari kiamat”. Sayyid Qhutub (TT:6/3917).
Al-Qudrah (mampu menanggung beban), Allah Swt membekali jiwa manusia untuk cenderung mengerjakan kebaikan, agar manusia mampu dan tenang dalam mengerjakan kebaikan tersebut. Allah Swt berfirman yang artinya “Allah tidak akan membebani seseorang melainkan sesuai dengan kemampuannya”. ( Al Hafidz Imam Ibnu Katsir:TT:1/324)
At Thawi (menganggap enteng setiap perkara), dalam tafsir Al-Jami li Ahkamil Qur’an “sifat jelek manusia yaitu menganggap enteng setiap perkara. Ia selalu mendorong manusia untuk berbuat kejahatan sehingga menganggap bahwa perbuatan jahat adalah perkra yang mudah,tidak berakibat fatal bagi diri dan kehidupan seseorang”. Imam Al-Qurthubi (TT:6/138)
Jadi dalam jiwa manusia ada beberapa kriteria tentang jiwa manusia, jika memilih jiwa yang baik maka baiklah segala kehidupannya sehingga mencapai apa yang dikehendakinya. Namun sebaliknya, jika memilih jiwa yang cenderung kepada keburukan maka buruklah segala perbuatannya.
3.         Analisis
Dalam hal ini, akan dianalisis tentang judul yang dibuat yaitu hubungan salat dengan penyucian jiwa untuk lebih memahami makna judul yang dibuat, demi terciptanya pemahaman pembaca.
Dalam mempersiapkan salat, diantaranya harus memiliki sikap dzahir dan batin yang seimbang, diantaranya :
a.    Takwa, yaitu acuan tempat untuk menghasilkan kekhusuan, dengan taqwa kita bisa membentengi diri dari segala hal yang dapat menjauhkan diri dari sang pencipta. Ahmad Syafi’I mengatakan dalam bukunya bahwa “takwa itu ialah suatu paksaan sikap untuk melahirkan takut, merendahkan diri serta ta’at melakukan kewajiban”.
b.    Keinginan niat dan keputusan hati, dalam artian bahwa harus memfokuskan diri pada tujuan yang akan dilaksanakan, yaitu salat.
Jiwa manusia diciptakan oleh Allah Swt untuk mengerrjkan kebaikan atau keburukan, sebagaimana firman-Nya:
Dan jiwa serta penyempurnaan (ciptaan-Nya) maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu (jalan) kefasikan dan ketaqwaan” Q.S (Asy-Syams :7-8)
Seharusnya salat itu mencegah dari perbuatan keji dan mungkar, bahkan bisa membawa seseorang ke arah jalan menuju ketakwaan kepada Allah Swt. Akan tetapi, tidak sedikit orang yang melakukan salat tidak semuanya menjadi berprilaku sesuai yang diharapkan. Itu disebabkan karena mereka belum memahami apa arti salat yang sebenarrnya, sehingga tidak mengetahui bahkan belum paham apa makna dan pelaksanaan dan tujuan salat itu sendiri. Ketika seseorang telah mengetahui bahwa salat itu mencegah dari perbuatan keji dan mungkar, serta dapat melaksanakan salatnya dengan khusu, maka orang tersebut telah menguasai jiwanya dengan sempurna, karena itu kehidupannya menjadi tentram sehingga mendapatkan kebahagiaan.
Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan agar kita bisa menyeimbangkan antara hubungan salat dengan penyucian jiwa, diantaranya:
1)   Mengetahui rahasia salat, yaitu  a) khudurul Qaib (kehadiran hati); b) tafakhum (memahami apa yang kita baca); c) takdzim (penghormatan atau pengangungan kepada Allah Swt); d) haibah (sifat yang melebihi takdzim yaitu takut kepada Allah Swt disertai pengangungan kepadanya); e) ra’ja (pengharapan dari Allah Swt); f) haya (rasa malu atas dosa dan kekurangan dalam melaksanakan kewajiban).
2)   Mengetahui Ilmu Salat
Man a’mala bighairih ilmi amaluhu mardudatun laa tuqbala” (Al-Hadis). Barangsiapa yang beramal tanpa ilmu, maka amalnya tidak diterima dan tidak memberi manfa’at. Maksud ilmu disini adalah ilmu (pengetahuan) tentang syarat dan rukun salat, tata cara salat nabi, sunah-sunah dalah salat, dan hal-hal yang membatalkan salat. Oleh karena itu, bagi yang belum mengkaji tentang fiqh salat, bersegeralah untuk mengkajinya.
Selain itu juga, harus mengetahui keutamaan salat. Selain ilmu fiqh salat, perlu diketahui tentang ilmu fadhail salat (ilmu keutamaan salat). Ilmu yang memberi ruh dan motivasi dalam pelaksanaan salat. Orang yang mengetahui tentang keutamaan salat tentu akan berbeda semangatnya dengan orang yang  tidak tahu sama sekali tentang keutamaan salat, fungsi salat, dan lain-lain. Fenomena salat diakhir waktu, salat secepat kilat, tergesa-gesa, salat terasa menjadi beban, adalah salahsatu akibat tidak memiliki ilmu fadhail salat.
3)   Berwudhu dengan Baik
Wudhu termasuk syarat sahnya salat. Dianjurkan untuk belajar tata caranya, syarat rukunnya, dan sebagainya. Selain daripada itu juga kita perlu mempelajari fadhail wudhu (keistimewaan wudhu) agar wudhu yang kita lakukan sesuai dengan apa yang dicontohkan oleh nabi, serta memiliki ruh dan penghayatan wudhu yang baik.
4)   Mempersiapkan Badan, Pakaian, dan Tempat
Ketika menghadap yang Maha Suci, maka badan, pakaian dan tempat juga harus suci. Suci pakaian, selain pakaiannya terhindar dari najis, cara mendapatkan pakaiannya juga harus dengan cara yang halal. Pakailah pakaian yang bagus saat salat, jangan pakai sembarang baju apalagi memakai pakaian kaos oblong. Suci tempat, selain tempatnya suci dari najis juga tempatnya penuh dengan muatan suci, yang dimaksud yaitu mesjid  (berjama’ah). Dengan ketiga persiapan tersebut, Insya Allah salat kita akan menjadi lebih khusu. Mari senantiasa belajar berusaha untuk meraih salat yang khusu.
5)   Salat yang Khusu dengan Ihsan Ikhlas dan Ittiba
Setelah dapat melewati semua ini, maka otomatis jiwa akan mendapatkan ketenangan, baik ketika salat maupunsetelah melaksanakannya. Allah mengingatkan kepada hamba-Nya lima kali sehari tentang waktu, orang yang khusu dalam salatnya akan efektif menggunakan waktu, ia tidak mau waktunya sia-sia, karena yakin bahwa waktu adalah nikmat terbesar yang diberikan oleh Allah Swt kepada manusia. Orang yang khusu salatnya dilaksanakan dengan tertib, yang berarti bahwa ia cinta kepada keteraturan dan ketenangan. Salat mengajarkan kepada kita bahwa kesuksesan adalah milik orang yang mau teratur dalam hidupnya. Banyak cara yang dilakukan oleh orang agar salat dan ibadahn lainnya supaya bisa melakukannya dengan khusu, ada pelatihan salat khusu, ada yang memejamkan matanya saat salat. Lalu apa yang harus dilakukan agar salat khusu, jawabannya hanya tiga, yaitu: a) Ihsan (merasa dilihat Allah Swt); b) Ikhlas (Untuk Allah Swt); c) Ittiba (sesuai sunah Rasulullah Saw).
4.        Penutup
1.    Simpulan
a.    Salat
a)    Memahami Ucapan
Suatu Ucapan yang baik merupakan gabungan dari tiga hal, diikrarkan dengan lidah, ditasdikkan dengan hati, dan dihayati dengan akal. Maka dengan itu harus mampu menggabungkan tiga hal tersebut agar ucapan bisa bersamaan dengan hati dan terhindar dari hal-hal yang dapat mengganggu kekhusuan.
b)   Memahami Adab Gerak
Dalam pelaksanaaan salat, gerakan-gerakannya harus dipahami, selain daripada ucapan, karena hal ini juga tidak kalah pentingnya dengan memahami ucapan-ucapan di dalam salat, untuk memahami itu perlu mencari referensi dari buku atau bertanya langsung kepada orang yang lenih mengetahui tentang gerakan-gerakan salat yang baik dan benar. Dengan mengacu pada hal tersebut, asal kita rajin mencari informasi, maka pemahaman tentang gerakan salat akan dipahami, Insya Allah.
b.   Jiwa
Untuk mempunyai jiwa yang senantiasa dekat dengan Rabb-Nya, maka harus mempunya sifat-sifat yang baik, yaitu diantaranya: a) Mengekang jiwa dan menanamkan rasa takut kepada Allah swt; b) Menanamkan sifat sabar; c) Mukabadatun Nafs (melatih jiwa menahan derita); d) Membuang sifat kikir; e) Memupuk jiwa denga tawakal.

Metode ini merupakan cara yang ditempuh oleh tabi’in dalam mentarbiyah jiwanya yang semua itu merupakan hasil istimbat (kesimpulan) mereka terhadap nash-nash Al-Qur’an dan Sunah Nabi. Abdul Hamid Al-Bilali (2000:penyucian jiwa)
2.        Saran
Setelah terbuatnya makalah ini, maka pembaca diharapkan mendapatkan hal-hal sebagai berikut: a) menjadikan salatnya mencapai tingkat tertinggi; b) memahami ucapan dan adab gerak salat; c) mengenal jiwa dan penerapan yang baik tentang jiwa; d) mengenal metode tarbiyah dalam rangka penyucian jiwa; e) mendapatkan pengetahuan lebih mendalam tentang pelaksanaan salat dan penyucian jiwa.
Daftar Pustaka
Al-Bilali, Abdul Hamid. 2000:Penyucian Jiwa Jakarta: Pustaka Al-Kautsar
Al-Qur’an.2008.Al-Qur’an dan Terjenmahan.Depok:Cahaya Qur’an.
Gymnastiar,Abdullah dkk,2010:shalat dalam perspektif sufi.Jakarta:Remaja Rosda Karya.
Sarwat, Ahmad:2010:Fiqh Salat:di unduh Kamis 12 November 2014 Pukul 2.42 http://bukugratisislam.blogspot.com/2010/10/fiqih.sholat.html.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Setelah membaca, silahakan tinggalkan komentar :)