Kepercayaan pada hakikatnya bersifat
meta-rasional, kepercayaan lebih dalam dari rasio/pikiran, sebab ia muncul dari
hati yang paling dalam. Rasio biasanya tidak dapat menjelaskan mengenai rincian
kepercayaan itu, sehingga percaya ya percaya saja, titik. Argumentasi rasional
bisa saja diperlukan dan dapat menjelaskan mengapa seseorang percaya, tetapi
percaya kepada seseorang dapat segera muncul, meskipun ia sebenarnya belum
mengenalnya secara lengkap. Ada proses internal yang bekerja sangat cepat,
untuk menangkap sinyal-sinyal untuk mempercayainya. Meskipun demikian,
kepercayaan yang muncul seketika itu, bisa salah, dan biasanya dalam pengalaman
pergaulan berikutnya, seseorang baru mengetahui bahwa kepercayaanya ternyata
salah.
Dalam pengalaman hidup, tidak selamanya semua
masalah dan urusan dapat diselesaikan hanya dengan rasio dan kepercayaan
seringkali lebih diperlukan daripada rasio. Bayangkan ketika seseorang hendak
makan di restoran ataupun di warung, kemudian dia menggunakan rasionya
semata-mata, pastilahn ia ingin mengetahui bahan yang dipakai dalam masakan
itu,cara masaknya, bersih atau tidak, apakah tercampur dengan keringat orang
yang memasak, atau tidak.
Dan seandainya rasio itu dibiarkan terus
mencari, meneliti dan menilai masakan yang akan dipesannya itu, niscaya ia
tidak jadi makan. Hal ini terjadi karena rasio selalu bekerja dengan dasar
kecurigaan, keingintahuan secara rinci, dan standar yang logis.
Kepercayaan merupakan sesuatu yang amat
fundamental dalam hidup seseorang, dan hanya dengan kepercayaan, seseorang
dapat hidup wajar. Jika ia percaya pada ibunya, maka ia tentram dalam kasih
sayangnya; dengan percaya pada gurunya, ia dapat menyerap ilmunya dengan
lancar; dengan ia percaya pada suanmunya, kehidupan rumah tangganya tentram;
dengan ia percaya pada bosnya, ia dapat bekerja lebih produktif; dengan ia
percaya pada karyawannya, ia dapat bekerja lebih kreatif; dan oleh sebab itu ia
percaya pada restoran/warung itu, maka ia dapat memakan makanannya dengan lahap
dan enak. Pada hakikatnya, kepercayaan membuat hidup seseorang menjadi tenang,
damai dan berbahagia. Sebaliknya, dengan kecurigaan dan hanya mengandalkan rasio,
hidup seseorang akan gelisah, kacau dan tidak berbahagia.
Dalam agama, kepercayaan itu iman kepada Allah
adalah sesuatu yang sangat mendasar dan merupakan hidayah dari Tuhan yang diberikan
langsung kepada manusia yang dikehendakinya dan bersemayam dalam hati manusia
yang paling dalam. Iman bersifat total dan mendorong orang beriman menyerahkan
secara total pula kepada Tuhannya. Makna iman kepada Tuhan, bukanlah hanaya
pengakuan dalam hati dan diucapkan dengan lisan, tetapi harus dinyatakan dengan
konkret dan poerbuatan-dalam bahasa agama disebut amal salih. Iman yang tidak
dinyatakan dalam amal kesalihan adalah iman yang dusta.
Mungkin karena itulah, dalam Al-Quran sebagian
ayat yang menyebutkan kata iman, selalu diikiti dengan kata amal salih atau
bagian dari bermacam-macam perbuatan kesalihan. Iman dan amal salih merupakan
kesatuan tak terrpisahkan seperti dua sisi mata uang, yang tanpa kedua sisinya
yang lengkap, maka mata uang tidak berlaku. Dalam Al-Quran surat Al-Kahfi Ayat
30 Allah Swt Berfirman : Innallazina amanu wa ‘amilushshalihati inna la nudli’u ajra
n\man ahsana ‘amala, artinya, sesungguhya mereka yang beriman dan beramal
shalih, tentulah kami tidak akan menyia-nyiakan orang yang mengerjakan
pekerjaannya dengan baik.
Tanpa kepercayaan, kehidupan seseorang akan
mengalami banyak kesulitan, sebab kepercayaan mendasari hampir semua tindakan
manusia, baik sosial, ekonomi, politik, hukum maupun agama. Kepercayaan
tidaklah bertentangan dengan rasio, keduanya mempunyai mekanisme yang berbeda
dan keduanya dapat saling melengkapi, karena kudanya mempunyai peran yang
berlainan. Kepercayaan atau iman berpusat dalam hati, memepertajam mata batin
dan menjangkau hal-hal gaib, yang tidak bisa dipakai oleh rasio, seperti iman
kepada Allah, malaikat, kehidupan di akhirat, sorga dan neraka.
Iman juga dapat dikembangkan menjadi
pengetahuan atau penglihatan kepada kegaiban sebab iman mempertajam mata hati
untuk melihat kegaiban. Itulah sebabnya, dalam agama seseorang yang tak beriman
dikatakan sebagai orang yang buta mata hatinya, sehingga tidak mampu melihat
hakikat realitas yang bersifat spiritual. Dalam Al-Quran surat Al Hajj Allah
Swt berfirman Afalam yasiru fi al-ardi fa takuna lahum ta’mal-absaru wa
lakin ta’ma-qulubul-lati fi as-sudur, artinya, apakah mereka tidak berjalan
di muka bumi, lalu mereka mempunyai hati yang dengan itu mereka dapat memahami
atau mempunyai telinga yang dengan itu mereka dapat mendengar? Karena sesungguhnya
bukan mata itulah yang buta, tetapi buta ialah hati yang ada di dalam dada.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Setelah membaca, silahakan tinggalkan komentar :)