Sabtu, 21 November 2015

Tentang Kepercayaan Menurut Prof.Dr.Musa Asy’ari

Kepercayaan pada hakikatnya bersifat meta-rasional, kepercayaan lebih dalam dari rasio/pikiran, sebab ia muncul dari hati yang paling dalam. Rasio biasanya tidak dapat menjelaskan mengenai rincian kepercayaan itu, sehingga percaya ya percaya saja, titik. Argumentasi rasional bisa saja diperlukan dan dapat menjelaskan mengapa seseorang percaya, tetapi percaya kepada seseorang dapat segera muncul, meskipun ia sebenarnya belum mengenalnya secara lengkap. Ada proses internal yang bekerja sangat cepat, untuk menangkap sinyal-sinyal untuk mempercayainya. Meskipun demikian, kepercayaan yang muncul seketika itu, bisa salah, dan biasanya dalam pengalaman pergaulan berikutnya, seseorang baru mengetahui bahwa kepercayaanya ternyata salah.

Dalam pengalaman hidup, tidak selamanya semua masalah dan urusan dapat diselesaikan hanya dengan rasio dan kepercayaan seringkali lebih diperlukan daripada rasio. Bayangkan ketika seseorang hendak makan di restoran ataupun di warung, kemudian dia menggunakan rasionya semata-mata, pastilahn ia ingin mengetahui bahan yang dipakai dalam masakan itu,cara masaknya, bersih atau tidak, apakah tercampur dengan keringat orang yang memasak, atau tidak.
Dan seandainya rasio itu dibiarkan terus mencari, meneliti dan menilai masakan yang akan dipesannya itu, niscaya ia tidak jadi makan. Hal ini terjadi karena rasio selalu bekerja dengan dasar kecurigaan, keingintahuan secara rinci, dan standar yang logis.
Kepercayaan merupakan sesuatu yang amat fundamental dalam hidup seseorang, dan hanya dengan kepercayaan, seseorang dapat hidup wajar. Jika ia percaya pada ibunya, maka ia tentram dalam kasih sayangnya; dengan percaya pada gurunya, ia dapat menyerap ilmunya dengan lancar; dengan ia percaya pada suanmunya, kehidupan rumah tangganya tentram; dengan ia percaya pada bosnya, ia dapat bekerja lebih produktif; dengan ia percaya pada karyawannya, ia dapat bekerja lebih kreatif; dan oleh sebab itu ia percaya pada restoran/warung itu, maka ia dapat memakan makanannya dengan lahap dan enak. Pada hakikatnya, kepercayaan membuat hidup seseorang menjadi tenang, damai dan berbahagia. Sebaliknya, dengan kecurigaan dan hanya mengandalkan rasio, hidup seseorang akan gelisah, kacau dan tidak berbahagia.
Dalam agama, kepercayaan itu iman kepada Allah adalah sesuatu yang sangat mendasar dan merupakan hidayah dari Tuhan yang diberikan langsung kepada manusia yang dikehendakinya dan bersemayam dalam hati manusia yang paling dalam. Iman bersifat total dan mendorong orang beriman menyerahkan secara total pula kepada Tuhannya. Makna iman kepada Tuhan, bukanlah hanaya pengakuan dalam hati dan diucapkan dengan lisan, tetapi harus dinyatakan dengan konkret dan poerbuatan-dalam bahasa agama disebut amal salih. Iman yang tidak dinyatakan dalam amal kesalihan adalah iman yang dusta.
Mungkin karena itulah, dalam Al-Quran sebagian ayat yang menyebutkan kata iman, selalu diikiti dengan kata amal salih atau bagian dari bermacam-macam perbuatan kesalihan. Iman dan amal salih merupakan kesatuan tak terrpisahkan seperti dua sisi mata uang, yang tanpa kedua sisinya yang lengkap, maka mata uang tidak berlaku. Dalam Al-Quran surat Al-Kahfi Ayat 30 Allah Swt Berfirman : Innallazina amanu wa ‘amilushshalihati inna la nudli’u ajra n\man ahsana ‘amala, artinya, sesungguhya mereka yang beriman dan beramal shalih, tentulah kami tidak akan menyia-nyiakan orang yang mengerjakan pekerjaannya dengan baik.
Tanpa kepercayaan, kehidupan seseorang akan mengalami banyak kesulitan, sebab kepercayaan mendasari hampir semua tindakan manusia, baik sosial, ekonomi, politik, hukum maupun agama. Kepercayaan tidaklah bertentangan dengan rasio, keduanya mempunyai mekanisme yang berbeda dan keduanya dapat saling melengkapi, karena kudanya mempunyai peran yang berlainan. Kepercayaan atau iman berpusat dalam hati, memepertajam mata batin dan menjangkau hal-hal gaib, yang tidak bisa dipakai oleh rasio, seperti iman kepada Allah, malaikat, kehidupan di akhirat, sorga dan neraka.

Iman juga dapat dikembangkan menjadi pengetahuan atau penglihatan kepada kegaiban sebab iman mempertajam mata hati untuk melihat kegaiban. Itulah sebabnya, dalam agama seseorang yang tak beriman dikatakan sebagai orang yang buta mata hatinya, sehingga tidak mampu melihat hakikat realitas yang bersifat spiritual. Dalam Al-Quran surat Al Hajj Allah Swt berfirman Afalam yasiru fi al-ardi fa takuna lahum ta’mal-absaru wa lakin ta’ma-qulubul-lati fi as-sudur, artinya, apakah mereka tidak berjalan di muka bumi, lalu mereka mempunyai hati yang dengan itu mereka dapat memahami atau mempunyai telinga yang dengan itu mereka dapat mendengar? Karena sesungguhnya bukan mata itulah yang buta, tetapi buta ialah hati yang ada di dalam dada.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Setelah membaca, silahakan tinggalkan komentar :)