Jumat, 20 November 2015

Makalah Metode Pengajaran Keimanan

BAB II
METODE PENGAJARAN KEIMANAN
Dalam rangka menumbuhkan rasa iman, rasa cinta kepada Allah SWT, seorang guru dapat menggunakan metode yang telah diterapkan Nabi Muhammad SAW seperti berikut ini :[1]


A.           Metode Kisah Qur’ani dan Nabawi
Dalam pendidikan Islam, kisah mempunyai fungsi edukatif yang tidak dapat diganti dengan bentuk penyampaian lain selain bahasa. Hal ini disebabkan kisah Qur’ani dan Nabawi mempunyai beberapa keistimewaan yang membuatnya mempunyai dampak psikologi dan edukatif yang sempurna.(Binti Maunah, 2009: 71).
Kisah Qur’ani dan Nabawi dapat digunakan dalam pengajaran keimanan. Pemberian kisah-kisah yang diambil dari Al Qur’an maupun kisah para Nabi dan Sahabat dapat mendidik perasaan keimanan dengan cara :
1.    Membangkitkan berbagai perasaan seperti khauf, rida, dan cinta.Mengarahkan seluruh perasaan sehingga bertumpuk pada suatu puncak yaitu kesimpulan kisah.
2.    Melibatkan pembaca atau pendengarnya ke dalam kisah itu sehingga secara emosional ia terlibat.
Kisah-kisah yang terdapat dalam Al-Qur’an merupakan salah satu cara untuk mendidik umat Islam agar beriman kepada Allah SWT.
Tujuan dari metode Qur’ani dan Nabawi itu sendiri adalah sebagai berikut :
a.    Mengungkapkan kemantapan wahyu dan risalah, mewujudkan rasa mantap dalam menerima Qur’an dan keutusan Rasul-Nya. Kisah-kisah ini menjadi bukti kebenaran wahyu dan kebenaran Rasul SAW.
b.    Menjelaskan bahwa secara keseluruhan, al-Din itu datangnya dari Allah.
c.    Menjelaskan bahwa Allah datang menolong dan mencintai Rasul-Nya, menjelaskan bahwa kaum mukmin adalah umat yang satu dan Allah adalah Rabb mereka.
d.   Kisah-kisah itu bertujuan untuk menguatkan keimanan kaum muslim, menghibur mereka dari kesedihan atas musibah yang menimpa.
e.    Mengingatkan bahwa musuh orang mukmin adalah syetan, menunjukkan permusuhan abadi tersebut akan lebih tampak jelas melalui kisah.

B.            Metode Amtsal
Metode Amtsal atau perumpamaan dalam cara penyampaiannya sama dengan metode kisah, yaitu menggunakan metode ceramah. Metode ini mirip dengan metode kisah Qur’ani dan Nabawi karena dalam menggunakan perumpamaan mengambil dari AlQur’an. Penggunaan perumpamaan dalam pengajaran dapat merangsang kesan terhadap makna yang tersirat dalam perumpamaan tersebut.Sebagai contoh dalam Q. S Al Ankabut ayat 41, Allah mengumpamakan sesembahan atau Tuhan orang kafir dengan sarang laba-laba. Perumpaman orang yang berlindung selain kepada Allah adalah seperti laba-laba yang membuat rumah. Padahal rumah yang paling lemah adalah rumah laba-laba. (Binti Maunah, 2009 : 72)
Dari perumpamaan diatas, anak dapat memahami bahwa menyembah selain kepada Allah ibarat berlindung pada sesuatu yang lemah dan tidak berdaya. Anak akan menyadari bahwa tidak ada kekuasan yang lebih besar dari kekuasaan Allah SWT. Sehingga dalam diri anak akan tertanam rasa keimanan yang tinggi dan pengakuan yang besar terhadap ke-Esaan Allah SWT.
Penggunaan perumpaman dalam pendidikan haruslah logis, dan mudah dipahami. Perumpamaan harus memperjelas konsep bukan malah mengaburkan penjelasan. Dengan perumpamaan anak dapat memahami konsep yang abstrak karena perumpamaan menggunakan benda-benda yang konkrit. Dalam Al Qur’an, kesimpulan perumpamaan yang ada kebanyakan harus ditebak sendiri oleh pendengar atau pembacanya sendiri karena Allah tahu manusia dapat menebaknya. 
C.           Metode Ibrah dan Mauizah
Metode ibrah adalah suatu cara yang dapat membuat kondisi psikis seseorang (siswa) mengetahui intisari perkara yang mempengaruhi perasaannya, yang diambil dari pengalaman-pengalaman orang lain atau pengalaman hidupnya sendiri. Sedangkan metode mauizah adalah suatu cara penyampaian materi pelajaran melalui tutur kata yang berisi nasihat-nasihat dan peringatan tentang baik buruknya sesuatu. (Heri Jauhari Muchtar, 2005 : 220)
Metode ibrah sangat diperhatikan dalam pendidikan Islam. Hal ini dilakukan agar anak didik dapat mengambil intisari atau pelajaran dari kisah-kisah Al Qur’an atau pengalaman-pengalaman yang diceritakan. Demikian pula dengan metode mauizah. Seorang pendidik hendaknya memberi nasehat secara berulang-ulang agar nasehat tersebut dapat meninggalkan kesan sehingga anak didiknya tergerak untuk mengikuti nasehat itu.
Metode ibrah dan mauizah apabila digunakan bersama-sama dalam pendidikan Islam memang tidak mudah. Penerapan metode ini membutuhkan keikhlasan dan berulang-ulang sehingga nasehat tersebut menyentuh kalbu pendengarnya. Nasehat yang dapat menimbulkan kesan yang mendalam menyebabkan nasehat tersebut tidak hanya tertanam dalam hati saja yang dapat menebalkan iman tetapi anak juga melaksanakan nasehat tersebut. 
D.            Metode Targhib Dan Tarhib
Metode ini berhubungan dengan pujian dan penghargaan. Imbalan atau tanggapan terhadap orang lain itu terdiri dari dua, yaitu penghargaan (reward/ targhib) dan hukuman (punishment/tarhib). Targhib bertujuan agar orang mematuhi aturan Allah. Sedangkan tarhib bertujuan agar orang menjauhi kejahatan. Metode ini didasarkan atas fitrah manusia yaitu sifat kesenangan, keselamatan dan tidak menginginkan kepedihan dan kesengsaraan. (Binti Maunah, 2009 : 76)
Metode ini dapat menumbuhkan rasa keimanan dalam diri anak didik. Dengan proses pemberian ganjaran dan hukuman tersebut, anak akan belajar mana yang boleh dilakukan dan mana yang harus ditinggalkan. Proses tersebut akan kuat tertanam dalam diri anak karena apabila anak diberi suatu hadiah atau penghargaan tatkala dia melakukan sesuatu yang terpuji, anak tersebut akan cenderung mengulanginya dan mencoba menemukan sesuatu yang baik lainnya yang menyebabkan dirinya diberi penghargaan. 
Sebaliknya, apabila anak diberi hukuman tatkala melakukan sesuatu, tentu anak akan berpikir bahwa yang dilakukannya salah dan tidak akan mengulanginya lagi karena hukuman yang dia rasakan. Dengan ini maka anak akan menghindari hal-hal yang menyebabkan dia dihukum. Anak akan lebih patuh dan melaksanakan hal-hal yang diperintahkan Allah. 
Agama Islam memberi arahan dalam memberi hukuman (terhadap anak/peserta didik) hendaknya memperhatikan hal-hal sebagi berikut :
1.    Jangan menghukum keika marah. Karena pemberian hukuman ketika marah akan lebih besifat emosional yang dipengaruhi nafsu syaithaniyah.
2.    Jangan sampai menyakiti perasaan dan harga diri anak atau orang yang kita hukum.
3.    Jangan sampai merendahkan derajat dan martabat orang bersangkutan, misalnya dengan menghina atau mencaci maki didepan orang lain. 
4.    Jangan menyakiti secara fisik, misalnya menampar mukanya atau menarik kerah bajunya dan sebagainya.
5.    Bertujuan mengubah perilakunya yang kurang/tidak baik. Kita menghukum karena anak /peserta didik berperilaku tidak baik.
Karena itu yang patut kita benci adalah perilakunya, bukan orangnya. Apabila anak/orang yang kita hukum sudah memeperbaiki perilakunya, maka tidak ada alasan kita untuk tetap membencinya. Anak perlu diberikan penghargaan karena telah memperbaiki perilakunya. Dalam penerapan merode ini diupayakan bahwa intensitas pemberian hukuman tidak sebesar pemberian hadiah. Dengan pemberian penghargaan yang lebih besar persentasenya, anak akan termotivasi untuk lebih berusaha berbuat kebaikan.
E.            Metode Pembiasaan
Untuk melaksanakan tugas atau kewajiban secara benar dan rutin terhadap anak atau peserta didik diperlukan pembiasaan. Misalnya, agar anak atau peserta didik dapat melaksanakan sholat secara benar dan rutin maka mereka perlu dibiasakan sholat sejak masih kecil, dari waktu kewaktu. Itulah sebabnya kita perlu mendidik mereka sejak dini atau kecil agar mereka terbiasa dan tidak merasa berat untuk melaksanaknnya ketika mereka sudah dewasa.
Sehubungan itu tepatlah pesan rosulullah kepada kita agar melatih atau membiasakan anak untuk melaksanakan sholat ketika mereka berusia 7 tahun dan memukulnya (tanpa cidera atau bekas) ketika berumur 10 tahun- atau lebih- apabila mereka tidak mengerjakannya. Dalam pelaksanaan metode ini diperlukan pengertian, kesabaran, dan ketelatenan orang tua, pendidik dan dai terhadap anak atau peseta didiknya. 
Dalam hal ini penanaman iman kepada anak-anak antara lain dapat dilakukan dalam bentuk pembiasaan. Dalam materi yang diajarkan setiap kali anak atau murid makan dan berdo’a, mencuci tangan supaya bersih, bangun pagi, hidup teratur, dan sebagainya. Pembiasaan tidaklah memerlukan keterangan atau argumen yang logis. Pembiasaan akan berjalan dan berpengaruh kerena semata-mata kebiasaan itu. Maksudnya, biasakanlah murid-murid kita dan tidak perlu benar dijelaskan mengapa harus begitu. Biasakanlah bangun pagi, shalat subuh tidak kesiangan, dan tidak perlu dijelaskan berulang-ulang mengapa harus begitu. Dengan demikian, pembiasaan itu datangnya dari kebiasaan itu sendiri.
F.            Metode Keteladanan
Metode ini merupakan metode yang paling unggul dan paling jitu dibandingkan metode-metode lainnya. Melalui metode ini para orang tua, pendidik atau dai memberi contoh atau teladan terhadap anak/peserta didiknya bagaiman cara berbicara, berbuat, bersikap, mengerjakan sesuatu atau cara beribadah, dsb.
Melalui metode ini maka anak atau peserta didik dapat melihat, menyaksikan dan meyakini cara sebenarnya sehingga mereka dapat melaksanaknnya dengan lebih baik dan lebih mudah. Metode keteladanan ini sesuai dengan sabda Rosulullah:
اِبْدَأْ بِنَفْسِكَ
“Mulailah dari diri sendiri”
Maksud hadist ini adalah dalam hal kebaikan dan kebenaran, apabila kita menghendak orang lain juga mengerjakannya, maka mulailah dari diri kita sendiri untuk mengerjakannya.
Dalam pengajaran keimanan dengan menggunakan metode teladan ini, yaitu meneladani kisah –kisah para nabi, rasul ataupun para sahabat. Misalnya saja pada masa Nabi Ibrahim, yang mana nabi Ibrahim mencari tuhannya. Dengan cerita itu, maka dapat menambah keyakinan makna adanya Allah.
G.           Metode Nasihat 
Metode inilah yang paling sering digunakan oleh para orang tua, pendidik dan da’i terhadap peserta didik dalam proses pendidikannya. Memberi nasihat sebenarnya merupakan kewajiban kita selaku muslim seperti tertera antara lain dalam Q.S al- Ashar ayat 3, yaitu agar kita senantiasa memberi nasihat dalam hal kebenaran. Rasulullah bersabda :

الدِّيْنُالنَّصِيْحَةُ
“Agama itu adalah nasihat.”
Maksudnya adalah agama itu berupa nasihat dari Allah bagi umat manusia melalui para nabi dan rasul-Nya agar manusia hidup bahagia, selamat dan sejahtera di dunia serta akhirat. Selain itu menyampaikan ajaran agama pun –bisa-dilakukan melalui nasihat. Supaya nasihat ini dapat terlaksana dengan baik, maka dalam pelaksanaannnya perlu memperhatikan beberapa hal, sebagai berikut :
a.    Gunakan kata dan bahasa yang baik dan sopan serta mudah dipahami.
b.    Jangan sampai menyinggung perasaan orang yang dinasehati atau orang disekitarnya.
c.    Sesuaikan perkataan kita dengan umur sifat dan tingkat kemampuan/ kedudukan anak atau orang yang kita nasehati.
d.   Perhatikan saat yang tepat kita memberi nasihat. Usahakan jangan menasehati ketika kita atau orang yang dinasehati sedang marah.
e.    Perhatikan keadaan sekitar ketika memberi nasihat. Usahakan jangan dihadapan orang lain atau-apalagi dihadapan orang banyak (kecuali ketika memberi ceramah/tausiyah.).
f.     Beri penjelasan, sebab atau kegunaan mengapa kitaperlu memberi nasihat.
g. Agar lebih menyentuh perasaaan dan hati nuraninya, sertakan ayat-ayat al-qur’an, hadist rasulullah atau kisah para nabi/ rasul, para sahabatnya atau orang-orang yang shalih.
Nasihat-nasihat yang diberikan oleh guru dengan memperhatikan kondisi dan situasi anak didiknya akan lebih meresap di hati. Apalagi ketika guru menyelipkan ayat-ayat atau kisah-kisah orang shalih yang sesuai dengan apa yang dialami anak didik. Hal ini dapat memupuk rasa keimanan dalam diri anak.

BAB III
PENERAPAN PENGAJARAN KEIMANAN
A.                Pengajaran Keimanan di Sekolah Dasar[2]
1.    Tujuan
Tujuan pelajaran keimanan, untuk menimbulkan perasaan keimanan kepada Allah dalam hati kanak-kanak, serta cinta kepadaNya, sehingga ia mempunyai iman yang teguh dan kepercayaan yang kokoh kepada Allah dan mencintainya lebih dari ibu-bapak dan guru. Sebab itu tujuan pelajaran keimanan adalah sebagai berikut:
a.    Supaya teguh keimanan kepada Allah, Rasul-Rasul, Malaikat, hari kiamat dan sebagainya.
b.   Supaya keimanan itu berdasarkan kesadaraan dan ilmu pengetahuan, bukan taqlid buta semata-mata.
c.    Supaya jangan mudah dirusakkan dan diragu-ragukan keimanan itu oleh orang-orang yang tidak beriman.
2.    Kaidah Umum Untuk Mengajarkan Keimanan
a.    Tabiat kanak-kanak masih kepada orang-orang yang mengasihinya, misalnya orang yang memberikan makanan atau permainan kepadanya.
b.   Kanak-kanak sangat suka mendengarkan cerita-cerita dan kisah-kisah khayal.
c.    Pelajaran keimanan harus diperhubungkan dengan pelajaran-pelajaran yang lain.
d.   Kejadian sehari-hari menunjukan pula adanya Allah yang Maha Esa.
3.     Metode Mengajarkan Keimanan Di Sekolah Dasar
a.    Metode Mengajarkan Keimanan Berupa Kisah
1)   Hendaklah dimulai dengan pendahuluan yang sesuai dengan acara kisah.
2)   Ceritakanlah kisah itu dengan bahasa yang terang, lagi mudah difahami murid-murid, serta menarik hati mereka.
3)   Setelah selesai kisah itu hendaklah guru bersama murid-muridnya mengambil kesimpulan tentang semangat keimanan pahlawan yang tersebut dalam kisah itu, serta mengajak murid-murid, supaya mempunyai semangat keimanan seperti pahlawan tersebut.
4)   Dalam kisah nabi-nabi hendaklah guru memperbandingkan antara orang-orang mukmin yang mengikuti rasul dan bagaimana akibat kedua golongan itu, sehingga merasa dan meresap dalam hati murid-murid, bahwa orang-orang mukmin itu mendapat kesenangan dan kebahagiaan didunia akhirat. Sedangkan orang-orang kafir merugi dan celaka. Akhirnya mengajak murid-murid supaya patuh mengikuti rasul dan mengamalkan apa-apa yang disuruhnya.
5)   Kemudian guru memajukan pertanyaan dalam bagian-bagian kisah itu dari awal sampai keakhirnya, supaya terang dan tetap isi kisah itu dalam hati murid-murid.
6)   Sesudah itu guru menyuruh murid menceritakan kisah itu secara bergantian.
7)   Pada akhirnya guru memajukan pertanyaan yang membutuhkan berfikir untuk menjawabnya, seperti sebab-sebab kejadian dan akibat dalam kisah itu.
b.   Metode Mengajarkan Keimanan Bukan Berupa Kisah 
1)   Hendaklah dimulai dengan pendahuluan yang sesuai dengan acara pelajaran, kemudian dinyatakan acara pelajaran itu, lalu dituliskan dipapan tulis.
2)   Untuk mendapat kesimpulan makna aqidah (keimanan) yang hendak dipelajari murid-murid, hendaklah diadakan soal-jawab, serta diberikan contoh-contoh sehinggan sampai kepada kesimpulan yang dimaksud lalu dituliskan dipapan tulis.
3)   Hendaklah diadakan munaqasah (soal-jawab) tentang dalil-dalil yang akan menetapkan dan memperkuat aqidah itu, yaitu dalil-dalil yang sesuai dengan akal pikiran murid-murid dan pengetahuan umumnya.
4)   Kemudian guru bersama murid-murid merumuskan dalil-dalil itu dalam kalimat dan perkataan yang terang, lalu dituliskan dipapan tulis.
5)   Kemudian guru menyebutkan ayat al-qur’an serta artinya yang berhubungan dengan aqidah, lalu dituliskan dipapan tulis.
6)   Hendaklah diadakan perbandingan antara aqidah itu dengan aqidah yang telah dipelajari dahulu oleh murid-murid atau keimanan yang lain yang salah.
7)   Hendaklah diperingatkan kepada murid-murid, bahwa aqidah itu syarat yang mutlak dalam agama islam dan menjadi kafirlah orang yang mengingkarinya. Sebab itu wajib diyakinkan oleh tiap-tiap orang islam.
8)   Kemudian diadakan soal-jawab umum tentang makna aqidah dan dalil-dalinya sebagai ulangan.
9)   Guru menyuruh murid membaca kesimpulan pelajaran yang tertulis dipapan tulis. Kemudian disuruh menyalinya dalam buku tulis khusus. Kalau murid-murid belum pandai tulis-baca, hendaklah guru memperbanyak soal-jawab, sebagai ulangan pelajaran itu, supaya dalam otak murid-murid.
B.                 Pengajaran Keimanan di Sekolah Menengah Pertama (SMP)[3]
Keimanan atau itiqad dalam islam, berdasarkan akal dan pikiran yang waras dan sekali-kali tiada bertentangan dengan akal pikiran dan perasaan yang halus.
            Sebagaimana asa pengajaran keimanan di sekolah dasar, ialah membangkitkan semangat dan perasaan halus kanak-kanak, maka di sekolah menengah pertama ini asas ini juga tidak dapat dilepaskan. Jadi perasaan halus murid-murid harus dipergunakan dalam pelajaran keimanan,serta ditambah dan diperkuat dengan ayat-ayat al-qur’an atau hadis-hadis untuk menetapkan i’tiqad itu.Di tingkat ini dapat kita perhubungkan antara faham akli dan nash (keterangan) Agama. Pendeknya asas pengajaran keimanan ditingkat ini, selain mempergunakan perasaan, juga mempergunakan dalil akli dan nas agama. Dengan tiga asas itu keimanan murid-murid akan bertambah tebal dan kuat.
            Selain daripada itu harus diterangkan juga pengaruh itiqad itu dalam mengatur kehidupan perseorangan dan kebahagiaan masyarakat. Dengan demikian pelajaran keimanan berhubungan juga dengan masyarakat.
            Metode Mengajarkan keimanan sebagai berikut:
1.      Pendahuluan yang sesuai dengan acara pelajaran, kemudian diterangkan acara pelajaran itu, lalu dituliskan di papan tulis.
2.      Guru bercakap-cakap dan bersoal-jawab dengan murid-murid tentang arti aqidah yang hendak diajarkannya dengan memberikan contoh-contoh, sehingga diambil kesimpulan tentang aqidah yang wajib diitiqadkan oleh tiap-tiap orang islam. Lalu dituliskan di papan tulis.
3.      Guru menerangkan dalil-dalil yang sesuai dengan akal pikiran murid-murid untuk menetapkan dan memperkuat aqidah itu atau bertukar pikiran dengan mereka tentang dalil-dalil yang dapat mereka ketahui dengan pengalaman atau pengetahuan umumnya. Pendeknya pelajaran keimanan ini dapat diperhubungkan dengan ilmu umum ( Ilmu tumbuh-tumbuhan, hewan, manusia,dsb.).
4.      Kemudian kesimpulan dalil-dalil itu dituliskan di papan tulis.
5.      Guru menyebutkan ayat-ayat al-qur’an atau hadis yang berhubungan dengan aqidah itu. Lalu dituliskan di papan tulis beserta artinya.
6.      Guru mengadakan perbandingan antara aqidah itu dengan aqidah-aqidah lain yang telah dipelajarinya.
7.      Guru memperingatkan murid-murid, bahwa aqidah itu syarat yang mutlak untuk sahnya islam seorang dan kafirlah orang yang tiada mengitiqadkan aqidah itu. Kemudian disuruh murid-murid, supaya taat mengikuti perintah Allah, sesuai dengan kehendak aqidah tersebut.
8.      Diakhir pelajaran disuruh murid-murid untuk membaca kesimpulan pelajaran yang tertulis dipapan tulis. Lalu disalin dalam buku tulis, kalau tidak ada kitab pelajaran, kalau ada suruh murid membacanya.

C.           Pengajaran Agama Di Sekolah Menengah Atas (SMA)

Pelajaran keimanan ditingkat SMA ialah memperluas pelajaran keimanan yang telah diberikan di SMP, yaitu dengan membangkitkan semangat dan perasaan keimanan serta diperkuat dengan dalil akli dan naqli (al-qur’an dan hadis). Begitu juga harus diterangkan pengaruh i’tiqad dalam mengatur kehidupan perseorangan dan kebahagiaan masyarakat.

D.                Pembelajaran Keimanan Di Perguruan Tinggi
Sebagimana di jelaskan bahwa agama orang dewasa ialah logika dan peraturan, maka pelajaran keimanan harus di berikan kepada mahasiswa, sesuai dengan keadaan mereka, sesuai dengan akal pikiran mereka dan sesuai dengan logika mereka.
Oleh sebab itu pelajaran keimanan, seperti percaya kepada Allah, haruslah di kuatkan dengan dalil-dalil dan burhan yang dapat di terima oleh akal pikiran mereka, menurut logika kemudian di perkuat dengan dalil-dalil Al-Qur’an misalnya dalil-dalil ada Allah banyak sekali yang di kemukakan oleh failasuf-failasuf baik failasuf-failasuf mukmin atau failasuf-failasuf bukan mukmin, seperti dalil-dalil di bawah ini:
1.              Dalil kejadian alam (The cosmological Argument)
2.              Dalil tujuan alam (Teleological Argument)
3.              Dalil mengarah kesempurnaan (The Ontological Argument)
4.              Dalil Ahlak atau bisikan hati nurani
Selain dari pada itu ada lagi dalil-dalil :
1.              Dalil ulama ilmu Al-kalam
2.              Dalil ulama Shufy
3.              Dalil-dalil Al-Qur’an
4.              Dalil-dalil  Filsafat dari dahulu sampai sekarang
Kemudian di tambah dengan dalil-dalil pengalaman masing-masing orang. Dengan demikian keimanan mahasiswa akan bertambah kuat dan kokoh dan tidak dapat di goyang-goyang dan di ragu-ragukan oleh orang-orang yang anti tuhan`
Metodik
            Untuk pelajaran keimanan baik di pakai metode diskusi bukan khutbah, boleh juga di pakai metode kuliah untuk menerangkan pendapat ulam dan failasuf-failasuf kemudian di diskusikan







BAB IV
SIMPULAN

Dalam rangka menumbuhkan rasa iman, rasa cinta kepada Allah SWT, seorang guru dapat menggunakan metode yang telah diterapkan Nabi Muhammad SAW seperti berikut ini :
1.             Metode Kisah Qur’ani dan Nabawi ;
2.             Metode Amtsal;
3.             Metode Ibrah dam Mauizah;
4.             Metode Targhib Tarhib;
5.             Metode Pembiasaan;
6.             Metode keteladanan;
7.             Metode nasihat.
Adapun metode pengajaran keimanan dalam setiap tingkatan berbeda-beda, pengajaran keimanan diantaranya :
1.             Pengajaran keimanan di Sekolah Dasar;
2.             Pengajaran keimanan di Sekolah Menegah Pertama;
3.             Pengajaran keimanan di Sekolah Menegah Atas;
4.             Pengajaran keimanan di Perguruan Tinggi.







DAFTAR PUSTAKA
Binti Maunah, 2009, Landasan Pendidikan, Yogyakarta : Penerbit Teras
Muchtar, Heri Jauhari, 2005, Fiqih Pendidikan, Bandung : Remaja Rosdakarya
Sahrodi, Jamali, 2008, Metodologi Pengajaran Islam, Bandung : CV. Pustaka Setia

 Yunus Mahmud 1990 Metodik Khusus Pendidikan  Agama, Jakarta : PT Chidakarya Agung





[2] Prof.Dr.H. Mahmud Yunus, Metodik Khusus Pendidikan  Agama, Hal 22-30
[3] Prof.Dr.H. Mahmud Yunus, Metodik Khusus Pendidikan  Agama, Hal 71-72

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Setelah membaca, silahakan tinggalkan komentar :)