BAB II
METODE PENGAJARAN KEIMANAN
Dalam rangka
menumbuhkan rasa iman, rasa cinta kepada Allah SWT, seorang guru dapat
menggunakan metode yang telah diterapkan Nabi Muhammad SAW seperti berikut ini :[1]
A.
Metode Kisah Qur’ani
dan Nabawi
Dalam
pendidikan Islam, kisah mempunyai fungsi edukatif yang tidak dapat diganti
dengan bentuk penyampaian lain selain bahasa. Hal ini disebabkan kisah Qur’ani
dan Nabawi mempunyai beberapa keistimewaan yang membuatnya mempunyai dampak psikologi
dan edukatif yang sempurna.(Binti Maunah, 2009: 71).
Kisah Qur’ani dan Nabawi dapat digunakan dalam
pengajaran keimanan. Pemberian kisah-kisah yang diambil dari Al Qur’an maupun
kisah para Nabi dan Sahabat dapat mendidik perasaan keimanan dengan cara :
1.
Membangkitkan berbagai perasaan seperti khauf,
rida, dan cinta.Mengarahkan seluruh perasaan sehingga bertumpuk pada suatu
puncak yaitu kesimpulan kisah.
2. Melibatkan pembaca atau pendengarnya ke dalam kisah itu sehingga
secara emosional ia terlibat.
Kisah-kisah
yang terdapat dalam Al-Qur’an merupakan salah satu cara untuk mendidik umat Islam agar
beriman kepada Allah SWT.
Tujuan
dari metode Qur’ani dan Nabawi itu sendiri
adalah sebagai berikut :
a.
Mengungkapkan
kemantapan wahyu dan risalah, mewujudkan rasa mantap dalam menerima Qur’an dan
keutusan Rasul-Nya. Kisah-kisah ini menjadi bukti kebenaran wahyu dan kebenaran
Rasul SAW.
b.
Menjelaskan
bahwa secara keseluruhan, al-Din itu datangnya dari Allah.
c.
Menjelaskan
bahwa Allah datang menolong dan mencintai Rasul-Nya, menjelaskan bahwa kaum
mukmin adalah umat yang satu dan Allah adalah Rabb mereka.
d.
Kisah-kisah
itu bertujuan untuk menguatkan keimanan kaum muslim, menghibur mereka dari
kesedihan atas musibah yang menimpa.
e.
Mengingatkan
bahwa musuh orang mukmin adalah syetan, menunjukkan permusuhan abadi tersebut
akan lebih tampak jelas melalui kisah.
B.
Metode Amtsal
Metode Amtsal atau perumpamaan dalam cara penyampaiannya sama
dengan metode kisah, yaitu menggunakan metode ceramah. Metode ini mirip dengan
metode kisah Qur’ani dan Nabawi karena dalam menggunakan perumpamaan mengambil
dari AlQur’an. Penggunaan perumpamaan dalam pengajaran dapat merangsang kesan
terhadap makna yang tersirat dalam perumpamaan tersebut.Sebagai contoh dalam Q.
S Al Ankabut ayat 41, Allah mengumpamakan sesembahan atau Tuhan orang kafir
dengan sarang laba-laba. Perumpaman orang yang berlindung selain kepada Allah
adalah seperti laba-laba yang membuat rumah. Padahal rumah yang paling lemah
adalah rumah laba-laba. (Binti Maunah, 2009 : 72)
Dari perumpamaan diatas, anak dapat memahami bahwa menyembah selain
kepada Allah ibarat berlindung pada sesuatu yang lemah dan tidak berdaya. Anak
akan menyadari bahwa tidak ada kekuasan yang lebih besar dari kekuasaan Allah
SWT. Sehingga dalam diri anak akan tertanam rasa keimanan yang tinggi dan pengakuan
yang besar terhadap ke-Esaan Allah SWT.
Penggunaan perumpaman dalam pendidikan haruslah logis, dan mudah
dipahami. Perumpamaan harus memperjelas konsep bukan malah mengaburkan penjelasan.
Dengan perumpamaan anak dapat memahami konsep yang abstrak karena perumpamaan
menggunakan benda-benda yang konkrit. Dalam
Al Qur’an, kesimpulan perumpamaan yang ada kebanyakan harus ditebak sendiri
oleh pendengar atau pembacanya sendiri karena Allah tahu manusia dapat
menebaknya.
C.
Metode Ibrah dan Mauizah
Metode ibrah adalah suatu cara yang dapat
membuat kondisi psikis seseorang (siswa) mengetahui intisari perkara yang
mempengaruhi perasaannya, yang diambil dari pengalaman-pengalaman orang lain
atau pengalaman hidupnya sendiri. Sedangkan
metode mauizah adalah suatu cara penyampaian materi pelajaran melalui tutur
kata yang berisi nasihat-nasihat dan peringatan tentang baik buruknya sesuatu.
(Heri Jauhari Muchtar, 2005 : 220)
Metode ibrah sangat diperhatikan dalam pendidikan Islam. Hal ini
dilakukan agar anak didik dapat mengambil intisari atau pelajaran dari
kisah-kisah Al Qur’an atau pengalaman-pengalaman yang diceritakan. Demikian
pula dengan metode mauizah. Seorang pendidik hendaknya memberi nasehat secara
berulang-ulang agar nasehat tersebut dapat meninggalkan kesan sehingga anak
didiknya tergerak untuk mengikuti nasehat itu.
Metode ibrah dan mauizah apabila digunakan bersama-sama dalam
pendidikan Islam memang tidak mudah. Penerapan metode ini membutuhkan
keikhlasan dan berulang-ulang sehingga nasehat tersebut menyentuh kalbu
pendengarnya. Nasehat yang dapat menimbulkan kesan yang mendalam menyebabkan
nasehat tersebut tidak hanya tertanam dalam hati saja yang dapat menebalkan
iman tetapi anak juga melaksanakan nasehat tersebut.
D.
Metode Targhib Dan Tarhib
Metode ini berhubungan dengan pujian dan penghargaan. Imbalan atau
tanggapan terhadap orang lain itu terdiri dari dua, yaitu penghargaan (reward/
targhib) dan hukuman (punishment/tarhib). Targhib bertujuan agar orang mematuhi
aturan Allah. Sedangkan tarhib bertujuan agar orang menjauhi kejahatan. Metode
ini didasarkan atas fitrah manusia yaitu sifat kesenangan, keselamatan dan
tidak menginginkan kepedihan dan kesengsaraan. (Binti Maunah, 2009 : 76)
Metode ini dapat menumbuhkan rasa keimanan dalam diri anak didik.
Dengan proses pemberian ganjaran dan hukuman tersebut, anak akan belajar mana
yang boleh dilakukan dan mana yang harus ditinggalkan. Proses tersebut akan
kuat tertanam dalam diri anak karena apabila anak diberi suatu hadiah atau
penghargaan tatkala dia melakukan sesuatu yang terpuji, anak tersebut akan
cenderung mengulanginya dan mencoba menemukan sesuatu yang baik lainnya yang
menyebabkan dirinya diberi penghargaan.
Sebaliknya, apabila anak diberi hukuman tatkala melakukan sesuatu,
tentu anak akan berpikir bahwa yang dilakukannya salah dan tidak akan
mengulanginya lagi karena hukuman yang dia rasakan. Dengan ini maka anak akan
menghindari hal-hal yang menyebabkan dia dihukum. Anak akan lebih patuh dan
melaksanakan hal-hal yang diperintahkan Allah.
Agama Islam memberi arahan dalam memberi hukuman (terhadap
anak/peserta didik) hendaknya memperhatikan hal-hal sebagi berikut :
1.
Jangan
menghukum keika marah. Karena pemberian hukuman ketika marah akan lebih besifat
emosional yang dipengaruhi nafsu syaithaniyah.
2.
Jangan
sampai menyakiti perasaan dan harga diri anak atau orang yang kita hukum.
3.
Jangan
sampai merendahkan derajat dan martabat orang bersangkutan, misalnya dengan
menghina atau mencaci maki didepan orang lain.
4.
Jangan
menyakiti secara fisik, misalnya menampar mukanya atau menarik kerah bajunya
dan sebagainya.
5.
Bertujuan
mengubah perilakunya yang kurang/tidak baik. Kita menghukum karena anak
/peserta didik berperilaku tidak baik.
Karena itu yang patut kita benci adalah perilakunya, bukan
orangnya. Apabila anak/orang yang kita hukum sudah memeperbaiki perilakunya,
maka tidak ada alasan kita untuk tetap membencinya. Anak perlu diberikan
penghargaan karena telah memperbaiki perilakunya. Dalam penerapan merode ini
diupayakan bahwa intensitas pemberian hukuman tidak sebesar pemberian hadiah.
Dengan pemberian penghargaan yang lebih besar persentasenya, anak akan
termotivasi untuk lebih berusaha berbuat kebaikan.
E.
Metode Pembiasaan
Untuk
melaksanakan tugas atau kewajiban secara benar dan rutin terhadap anak atau
peserta didik diperlukan pembiasaan. Misalnya, agar anak atau peserta didik
dapat melaksanakan sholat secara benar dan rutin maka mereka perlu dibiasakan
sholat sejak masih kecil, dari waktu kewaktu. Itulah sebabnya kita perlu
mendidik mereka sejak dini atau kecil agar mereka terbiasa dan tidak merasa
berat untuk melaksanaknnya ketika mereka sudah dewasa.
Sehubungan itu tepatlah pesan rosulullah kepada kita agar melatih
atau membiasakan anak untuk melaksanakan sholat ketika mereka berusia 7 tahun
dan memukulnya (tanpa cidera atau bekas) ketika berumur 10 tahun- atau lebih-
apabila mereka tidak mengerjakannya. Dalam pelaksanaan metode ini diperlukan
pengertian, kesabaran, dan ketelatenan orang tua, pendidik dan dai terhadap
anak atau peseta didiknya.
Dalam hal ini penanaman iman kepada anak-anak antara lain dapat dilakukan
dalam bentuk pembiasaan. Dalam materi yang diajarkan
setiap kali anak atau murid makan dan berdo’a, mencuci tangan supaya bersih,
bangun pagi, hidup teratur, dan sebagainya. Pembiasaan tidaklah memerlukan
keterangan atau argumen yang logis. Pembiasaan akan berjalan dan berpengaruh
kerena semata-mata kebiasaan itu. Maksudnya, biasakanlah murid-murid kita dan
tidak perlu benar dijelaskan mengapa harus begitu. Biasakanlah bangun pagi,
shalat subuh tidak kesiangan, dan tidak perlu dijelaskan berulang-ulang mengapa
harus begitu. Dengan demikian, pembiasaan itu datangnya dari kebiasaan itu
sendiri.
F.
Metode Keteladanan
Metode ini merupakan metode yang paling unggul dan paling jitu
dibandingkan metode-metode lainnya. Melalui metode ini para orang tua, pendidik
atau dai memberi contoh atau teladan terhadap anak/peserta didiknya bagaiman
cara berbicara, berbuat, bersikap, mengerjakan sesuatu atau cara beribadah,
dsb.
Melalui metode ini maka anak atau peserta didik dapat melihat, menyaksikan dan meyakini cara sebenarnya sehingga mereka dapat melaksanaknnya dengan lebih baik dan lebih mudah. Metode keteladanan ini sesuai dengan sabda Rosulullah:
اِبْدَأْ بِنَفْسِكَ
Melalui metode ini maka anak atau peserta didik dapat melihat, menyaksikan dan meyakini cara sebenarnya sehingga mereka dapat melaksanaknnya dengan lebih baik dan lebih mudah. Metode keteladanan ini sesuai dengan sabda Rosulullah:
اِبْدَأْ بِنَفْسِكَ
“Mulailah dari diri sendiri”
Maksud hadist ini adalah dalam hal kebaikan dan kebenaran, apabila
kita menghendak orang lain juga mengerjakannya, maka mulailah dari diri kita
sendiri untuk mengerjakannya.
Dalam pengajaran keimanan dengan menggunakan metode teladan ini,
yaitu meneladani kisah –kisah para nabi, rasul ataupun para sahabat. Misalnya
saja pada masa Nabi Ibrahim, yang mana nabi Ibrahim mencari tuhannya. Dengan
cerita itu, maka dapat menambah keyakinan makna adanya Allah.
G.
Metode Nasihat
Metode inilah yang paling sering digunakan oleh para orang tua,
pendidik dan da’i terhadap peserta didik dalam proses pendidikannya. Memberi
nasihat sebenarnya merupakan kewajiban kita selaku muslim seperti tertera
antara lain dalam Q.S al- Ashar ayat 3, yaitu agar kita senantiasa memberi
nasihat dalam hal kebenaran. Rasulullah bersabda :
الدِّيْنُالنَّصِيْحَةُ
“Agama itu adalah nasihat.”
Maksudnya adalah agama itu berupa nasihat dari Allah bagi umat
manusia melalui para nabi dan rasul-Nya agar manusia hidup bahagia, selamat dan
sejahtera di dunia serta akhirat. Selain itu menyampaikan ajaran agama pun
–bisa-dilakukan melalui nasihat. Supaya nasihat ini dapat terlaksana dengan
baik, maka dalam pelaksanaannnya perlu memperhatikan beberapa hal, sebagai berikut
:
a.
Gunakan
kata dan bahasa yang baik dan sopan serta mudah dipahami.
b.
Jangan
sampai menyinggung perasaan orang yang dinasehati atau orang disekitarnya.
c.
Sesuaikan
perkataan kita dengan umur sifat dan tingkat kemampuan/ kedudukan anak atau
orang yang kita nasehati.
d.
Perhatikan
saat yang tepat kita memberi nasihat. Usahakan jangan menasehati ketika kita
atau orang yang dinasehati sedang marah.
e.
Perhatikan
keadaan sekitar ketika memberi nasihat. Usahakan jangan dihadapan orang lain
atau-apalagi dihadapan orang banyak (kecuali ketika memberi ceramah/tausiyah.).
f.
Beri
penjelasan, sebab atau kegunaan mengapa kitaperlu memberi nasihat.
g. Agar lebih menyentuh perasaaan dan hati nuraninya, sertakan ayat-ayat al-qur’an, hadist rasulullah atau kisah para nabi/ rasul, para sahabatnya atau orang-orang yang shalih.
g. Agar lebih menyentuh perasaaan dan hati nuraninya, sertakan ayat-ayat al-qur’an, hadist rasulullah atau kisah para nabi/ rasul, para sahabatnya atau orang-orang yang shalih.
Nasihat-nasihat yang diberikan oleh guru dengan memperhatikan
kondisi dan situasi anak didiknya akan lebih meresap di hati. Apalagi ketika
guru menyelipkan ayat-ayat atau kisah-kisah orang shalih yang sesuai dengan apa
yang dialami anak didik. Hal ini dapat memupuk rasa keimanan dalam diri anak.
BAB III
PENERAPAN PENGAJARAN KEIMANAN
A.
Pengajaran
Keimanan di Sekolah Dasar[2]
1.
Tujuan
Tujuan pelajaran keimanan, untuk menimbulkan
perasaan keimanan kepada Allah dalam hati kanak-kanak, serta cinta kepadaNya,
sehingga ia mempunyai iman yang teguh dan kepercayaan yang kokoh kepada Allah
dan mencintainya lebih dari ibu-bapak dan guru. Sebab itu tujuan pelajaran
keimanan adalah sebagai berikut:
a. Supaya teguh keimanan kepada Allah, Rasul-Rasul, Malaikat, hari kiamat dan
sebagainya.
b. Supaya keimanan itu berdasarkan kesadaraan dan ilmu pengetahuan, bukan
taqlid buta semata-mata.
c. Supaya jangan mudah dirusakkan dan diragu-ragukan keimanan itu oleh orang-orang
yang tidak beriman.
2.
Kaidah Umum
Untuk Mengajarkan Keimanan
a.
Tabiat kanak-kanak masih kepada orang-orang
yang mengasihinya, misalnya orang yang memberikan makanan atau permainan
kepadanya.
b.
Kanak-kanak sangat suka mendengarkan cerita-cerita
dan kisah-kisah khayal.
c.
Pelajaran keimanan harus diperhubungkan dengan
pelajaran-pelajaran yang lain.
d.
Kejadian sehari-hari menunjukan pula adanya
Allah yang Maha Esa.
3.
Metode Mengajarkan Keimanan Di Sekolah
Dasar
a. Metode Mengajarkan Keimanan Berupa Kisah
1) Hendaklah dimulai dengan pendahuluan yang sesuai dengan acara kisah.
2) Ceritakanlah kisah itu dengan bahasa yang terang, lagi mudah difahami
murid-murid, serta menarik hati mereka.
3) Setelah selesai kisah itu hendaklah guru bersama murid-muridnya mengambil
kesimpulan tentang semangat keimanan pahlawan yang tersebut dalam kisah itu,
serta mengajak murid-murid, supaya mempunyai semangat keimanan seperti pahlawan
tersebut.
4) Dalam kisah nabi-nabi hendaklah guru memperbandingkan antara orang-orang
mukmin yang mengikuti rasul dan bagaimana akibat kedua golongan itu, sehingga
merasa dan meresap dalam hati murid-murid, bahwa orang-orang mukmin itu
mendapat kesenangan dan kebahagiaan didunia akhirat. Sedangkan orang-orang
kafir merugi dan celaka. Akhirnya mengajak murid-murid supaya patuh mengikuti
rasul dan mengamalkan apa-apa yang disuruhnya.
5) Kemudian guru memajukan pertanyaan dalam bagian-bagian kisah itu dari awal
sampai keakhirnya, supaya terang dan tetap isi kisah itu dalam hati
murid-murid.
6) Sesudah itu guru menyuruh murid menceritakan kisah itu secara bergantian.
7) Pada akhirnya guru memajukan pertanyaan yang membutuhkan berfikir untuk
menjawabnya, seperti sebab-sebab kejadian dan akibat dalam kisah itu.
b. Metode Mengajarkan Keimanan Bukan Berupa Kisah
1) Hendaklah dimulai dengan pendahuluan yang sesuai dengan acara pelajaran,
kemudian dinyatakan acara pelajaran itu, lalu dituliskan dipapan tulis.
2) Untuk mendapat kesimpulan makna aqidah (keimanan) yang hendak dipelajari
murid-murid, hendaklah diadakan soal-jawab, serta diberikan contoh-contoh sehinggan
sampai kepada kesimpulan yang dimaksud lalu dituliskan dipapan tulis.
3) Hendaklah diadakan munaqasah (soal-jawab) tentang dalil-dalil yang akan
menetapkan dan memperkuat aqidah itu, yaitu dalil-dalil yang sesuai dengan akal
pikiran murid-murid dan pengetahuan umumnya.
4) Kemudian guru bersama murid-murid merumuskan dalil-dalil itu dalam kalimat
dan perkataan yang terang, lalu dituliskan dipapan tulis.
5) Kemudian guru menyebutkan ayat al-qur’an serta artinya yang berhubungan
dengan aqidah, lalu dituliskan dipapan tulis.
6) Hendaklah diadakan perbandingan antara aqidah itu dengan aqidah yang telah
dipelajari dahulu oleh murid-murid atau keimanan yang lain yang salah.
7) Hendaklah diperingatkan kepada murid-murid, bahwa aqidah itu syarat yang
mutlak dalam agama islam dan menjadi kafirlah orang yang mengingkarinya. Sebab
itu wajib diyakinkan oleh tiap-tiap orang islam.
8) Kemudian diadakan soal-jawab umum tentang makna aqidah dan dalil-dalinya
sebagai ulangan.
9) Guru menyuruh murid membaca kesimpulan pelajaran yang tertulis dipapan
tulis. Kemudian disuruh menyalinya dalam buku tulis khusus. Kalau murid-murid
belum pandai tulis-baca, hendaklah guru memperbanyak soal-jawab, sebagai
ulangan pelajaran itu, supaya dalam otak murid-murid.
B.
Pengajaran Keimanan di Sekolah Menengah
Pertama (SMP)[3]
Keimanan atau itiqad dalam islam, berdasarkan
akal dan pikiran yang waras dan sekali-kali tiada bertentangan dengan akal
pikiran dan perasaan yang halus.
Sebagaimana
asa pengajaran keimanan di sekolah dasar, ialah membangkitkan semangat dan
perasaan halus kanak-kanak, maka di sekolah menengah pertama ini asas ini juga
tidak dapat dilepaskan. Jadi perasaan halus murid-murid harus dipergunakan
dalam pelajaran keimanan,serta ditambah dan diperkuat dengan ayat-ayat
al-qur’an atau hadis-hadis untuk menetapkan i’tiqad itu.Di tingkat ini dapat
kita perhubungkan antara faham akli dan nash (keterangan) Agama. Pendeknya asas
pengajaran keimanan ditingkat ini, selain mempergunakan perasaan, juga
mempergunakan dalil akli dan nas agama. Dengan tiga asas itu keimanan
murid-murid akan bertambah tebal dan kuat.
Selain
daripada itu harus diterangkan juga pengaruh itiqad itu dalam mengatur
kehidupan perseorangan dan kebahagiaan masyarakat. Dengan demikian pelajaran
keimanan berhubungan juga dengan masyarakat.
Metode
Mengajarkan keimanan sebagai berikut:
1. Pendahuluan yang sesuai dengan acara pelajaran, kemudian diterangkan acara
pelajaran itu, lalu dituliskan di papan tulis.
2. Guru bercakap-cakap dan bersoal-jawab dengan murid-murid tentang arti
aqidah yang hendak diajarkannya dengan memberikan contoh-contoh, sehingga
diambil kesimpulan tentang aqidah yang wajib diitiqadkan oleh tiap-tiap orang
islam. Lalu dituliskan di papan tulis.
3. Guru menerangkan dalil-dalil yang sesuai dengan akal pikiran murid-murid
untuk menetapkan dan memperkuat aqidah itu atau bertukar pikiran dengan mereka
tentang dalil-dalil yang dapat mereka ketahui dengan pengalaman atau
pengetahuan umumnya. Pendeknya pelajaran keimanan ini dapat diperhubungkan
dengan ilmu umum ( Ilmu tumbuh-tumbuhan, hewan, manusia,dsb.).
4. Kemudian kesimpulan dalil-dalil itu dituliskan di papan tulis.
5. Guru menyebutkan ayat-ayat al-qur’an atau hadis yang berhubungan dengan
aqidah itu. Lalu dituliskan di papan tulis beserta artinya.
6. Guru mengadakan perbandingan antara aqidah itu dengan aqidah-aqidah lain
yang telah dipelajarinya.
7. Guru memperingatkan murid-murid, bahwa aqidah itu syarat yang mutlak untuk
sahnya islam seorang dan kafirlah orang yang tiada mengitiqadkan aqidah itu.
Kemudian disuruh murid-murid, supaya taat mengikuti perintah Allah, sesuai
dengan kehendak aqidah tersebut.
8. Diakhir pelajaran disuruh murid-murid untuk membaca kesimpulan pelajaran
yang tertulis dipapan tulis. Lalu disalin dalam buku tulis, kalau tidak ada
kitab pelajaran, kalau ada suruh murid membacanya.
C.
Pengajaran Agama Di Sekolah
Menengah Atas (SMA)
Pelajaran keimanan ditingkat SMA ialah memperluas
pelajaran keimanan yang telah diberikan di SMP, yaitu dengan membangkitkan
semangat dan perasaan keimanan serta diperkuat dengan dalil akli dan naqli
(al-qur’an dan hadis). Begitu juga harus diterangkan pengaruh i’tiqad dalam
mengatur kehidupan perseorangan dan kebahagiaan masyarakat.
D.
Pembelajaran Keimanan
Di Perguruan Tinggi
Sebagimana di jelaskan bahwa agama orang dewasa ialah logika dan peraturan,
maka pelajaran keimanan harus di berikan kepada mahasiswa, sesuai dengan
keadaan mereka, sesuai dengan akal pikiran mereka dan sesuai dengan logika
mereka.
Oleh sebab itu pelajaran keimanan, seperti percaya kepada Allah, haruslah
di kuatkan dengan dalil-dalil dan burhan yang dapat di terima oleh akal pikiran
mereka, menurut logika kemudian di perkuat dengan dalil-dalil Al-Qur’an
misalnya dalil-dalil ada Allah banyak sekali yang di kemukakan oleh
failasuf-failasuf baik failasuf-failasuf mukmin atau failasuf-failasuf bukan
mukmin, seperti dalil-dalil di bawah ini:
1.
Dalil
kejadian alam (The cosmological Argument)
2.
Dalil
tujuan alam (Teleological Argument)
3.
Dalil
mengarah kesempurnaan (The Ontological Argument)
4.
Dalil
Ahlak atau bisikan hati nurani
Selain dari pada itu ada lagi
dalil-dalil :
1.
Dalil
ulama ilmu Al-kalam
2.
Dalil
ulama Shufy
3.
Dalil-dalil
Al-Qur’an
4.
Dalil-dalil Filsafat dari dahulu sampai sekarang
Kemudian di tambah dengan dalil-dalil pengalaman masing-masing
orang. Dengan demikian keimanan mahasiswa akan bertambah kuat dan kokoh
dan tidak dapat di goyang-goyang dan di ragu-ragukan oleh orang-orang yang anti
tuhan`
Metodik
Untuk
pelajaran keimanan baik di pakai metode diskusi bukan khutbah, boleh juga di
pakai metode kuliah untuk menerangkan pendapat ulam dan failasuf-failasuf
kemudian di diskusikan
BAB IV
SIMPULAN
Dalam
rangka menumbuhkan rasa iman, rasa cinta kepada Allah SWT, seorang guru dapat
menggunakan metode yang telah diterapkan Nabi Muhammad SAW seperti berikut ini :
1.
Metode Kisah Qur’ani dan Nabawi ;
2.
Metode Amtsal;
3.
Metode Ibrah dam Mauizah;
4.
Metode Targhib Tarhib;
5.
Metode Pembiasaan;
6.
Metode keteladanan;
7.
Metode nasihat.
Adapun metode pengajaran keimanan dalam setiap tingkatan
berbeda-beda, pengajaran keimanan diantaranya :
1.
Pengajaran keimanan di Sekolah Dasar;
2.
Pengajaran keimanan di Sekolah Menegah
Pertama;
3.
Pengajaran keimanan di Sekolah Menegah Atas;
4.
Pengajaran keimanan di Perguruan Tinggi.
DAFTAR PUSTAKA
Binti Maunah, 2009, Landasan Pendidikan, Yogyakarta : Penerbit Teras
Muchtar, Heri Jauhari, 2005, Fiqih
Pendidikan, Bandung : Remaja Rosdakarya
Sahrodi, Jamali, 2008, Metodologi Pengajaran Islam,
Bandung : CV. Pustaka Setia
Yunus
Mahmud 1990 Metodik Khusus Pendidikan
Agama, Jakarta : PT Chidakarya Agung
file:///D:/Δ%20SmadLock%20(Brankas%20Smadav)%20Δ/Data%20Mata%20Kuliah%20Smt3/Metodologi%20Pembelajaran%20Keimanan/woelanmay_%20METODE%20PENGAJARAN%20KEIMANAN.html Diambil Pada Tanggal 10-10-2015 Jam 08.08 WIB
[1]file:///D:/Δ%20SmadLock%20(Brankas%20Smadav)%20Δ/Data%20Mata%20Kuliah%20Smt3/Metodologi%20Pembelajaran%20Keimanan/woelanmay_%20METODE%20PENGAJARAN%20KEIMANAN.html Diambil Pada Tanggal 10-10-2015 Jam 08.00
WIB
[2] Prof.Dr.H. Mahmud Yunus, Metodik Khusus
Pendidikan Agama, Hal 22-30
[3] Prof.Dr.H. Mahmud Yunus, Metodik Khusus
Pendidikan Agama, Hal 71-72
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Setelah membaca, silahakan tinggalkan komentar :)