BAB II
PEMBAHASAN
A.
Makna Pendidikan
Pendidikan merupakan suatu perbuatan, suatu
tindakan, suatu “praktek”. Istilah “praktek” disini bukan berarti yang mudah,
yang sederhana, yang tidak perlu pemikiran. Istilah “praktek” atau “praktis”
disini berarti penuangan teori kedalam praktek, sehingga praktek pendidikan itu
jelas garisnya, jelas dasar dan arahnya.[1]
Sekaitan dengan pendidikan inilah kita lihat
ketetapan ungkapan seseorang yang menyatakan:”Tidak ada yang lebih praktis dari
suatu teori yang baik”. Artinya suatu perbuatan hanya akan berlangsung baik dan
lancar, manakala jelas garisnya, jelas dasar dan tujuannya.
Jadi, walaupun pendidikan merupakan suatu
perbuatan, suatu tindakan, namun bukan suatu tindakan dan perbuatan yang
sekedar lahiriah, bukan sekedar rangkaian gerak, bukan prilaku kosong.
Memang ada sementara pihak yang memandang
perbuatan pendidikan dan pengajaran itu sebagai suatu rangkaian gerak, dan
perbuatan tersebut diartikan secara “molekuler” artinya, dilihat dari bawah,
dari unsur-unsurnya yang terkecil.
Untuk pendidikan, pengertian perbuatan atau
tindakan pendidikan seperti itu tidak tepat. Perbuatan lebih tepat lagi
tindakan pendidikan hendaknya tidak diartikan secara molekuler, yang didasarkan
pada bagian-bagiannya yang terkecil (gerak,refleks dan sebagainya), melainkan
harus diartikan secara menyeluruh (“molair”). Sebab pendidikan tidak
dilaksanakan untuk pendidikan itu sendiri, melainkan diarahkan pada pencapaian
maksud dan tujuan di waktu mendatang. Dimensi waktu dalam pendidikan tidak
hanya menyangkut waktu sekarang, saat dilaksanakannya pendidikan itu, melainkan
diarahkan kepada sikap,prilaku dan kemampuan serta pengetahuan yang diharapkan
kelak dapat menjadi pegangan si terdidik dalam melaksanakan tugas hidupnya
secara bertanggung jawab.
Kita juga harus memperhatikan masa lalu anak
itu yang berpengaruh terhadap kehidupannya sekarang dan karena itu terhadap
pola pelaksanaan pendidikan.
Dalam karya Abdurrahman an-Nahlawi pendidikan
tidak diartikan sesempit yang digambarkan sebagai tindakan molekuler itu, maka
pendidikan yang merupakan perbuatan dan tindakan itu dilihat dalam konteks yang
lebih menyeluruh dan mendalam. Pendidikan dikaitkan, bahkan didasarkan dan
diturunkan dari ajaran islam. Dengan demikian pendidikan dalam artian ini kokoh
dasarnya, jelas arah dan tujuannya.
Hanya bila kokoh dasarnya dan jelas arahnya
itulah, pelaksanaannya akan lancar dan tidak sekedar terbawa implus atau gejolak hati sesaat, tidak
akan sekedar merupakan pelampiasan hawa nafsu (misalnya pemberian hukuman
pendidikan, tidak didorong oleh luapan hawa nafsu atau kedengkian, melainkan
lebih sebagai peringatan).
Dalam suatu bahasan mengenai pendidikan yang
bertolak dari pola pikir tentang padunya aspek teoretis (“prinsip-prinsip”)
dengan aspek praktis (“metoda”) tidak akan memberi tempat kepada pelaksanaan pendidikan
yang semena-mena, yang sekedar digerakkan oleh gejolak hati serta diarahkan
kepada pemenuhan kebutuhan sesaat.
B.
Prinsip Dasar
Pendidikan
Prinsip diartikan sebagai permulaan, yang
dengan suatu cara tertentu melahirkan hal-hal lain, yang keberadaannya
tergantung dari pemula itu. Jadi kalau kita berbicara tentang prinsip
pendidikan, maka pelaksanaan pendidikan itu tergantung atau digariskan oleh
prinsip-prinsip tersebut yang menggariskannya. Demikian pula cara atau metoda
pendidikan (yang lebih menyangkut segi pelaksanaan) tidak dapat dilepaskan dari
berbagai prinsip yang melandasinya, baik metodanya itu sendiri, maupun
prinsip-prinsip yang melandasi pendidikannya.[2]
Adanya berbagai pendidikan mengenai manusia,
mengenai perbuatan manusia, mengenai tujuan hidup manusia, mengenai pertauan
antara manusia dengan lingkungannya, dengan waktu, dan sebagainya, melahirkan
berbagai pandangan tentang pendidikan dan berbagai metode pendidikan.
C.
Tujuan Pendidikan
Tujuan pendidikan ialah untuk
menjalankan tiga fungsi yang semuanya bersifat normatif. Pertama, menentukan
haluan bagi proses pendidikan. Kedua, sekaligus dengan pelaksanaan penentuan
yang dituju ialah memberikan rangsangan. Maksudnya, jika haluan dan proses
pendidikan itu dipandan bernilai, dan ia diingini, maka tentulah akan mendorong
pelajar mengerluarkan tenaga yang diperlukan. Akhirnya, pendidikan itu
mempunyai fungsi untuk menjadi kriteria dalam menilai poses pendidikan.
Dalam bagian ini yang menjadi
tumpuan utama adalah tujuan-tujuan yang akan menetukan haluan pendidikan. Dalam
bagian yang berkenaan dengan pelaksanaan pendidikan kita akan bincangkan tujuan
sebagai perangsang terhadap proses pendidikan. Manakala bagian mengenai
penilaian kita akan bincangkan tujuan sebagai kriteria dalam menilai prosese
pendidikan.
Tujuan pendidikan sebagai alat untuk
menentukan haluan pendidikan itu dapat dilihat tiga tahap, yaitu tujuan khusus
(objektives), tujuan umum( wales), dan tujuan akhir aims. Bila digunakan dalam
kurikulum maka tiga tahap tujuan ini masing-masing mencakup aspek tertentu dari
tujuan itu. Kita ambil misalnya tujuan pelajaran kimia sebagai berikut:
1.
Murid-murid
akan menguasai prinsip-prinsip ilmu kimia (tujuan khusus).
2.
Murid-murid
akan sanggup berfikir secara kritis (tujuan umum).
3.
Murid-murid
akan mencapai perwujudan diri (tujuan akhir).
Kalau
perbincangan itu kita lanjutkan lagi maka ia akan menunjukan kaitan dengan
tujuan hidup yang kerap kali lebih tepat disebut sebagai tujuan terakhir (ultimate
aim).[3]
D.
Keharusan Pendidikan
Ada beberapa alasan dasar mengapa
anak didik harus di didik, diantaranya sebagai berikut :
1.
Dasar biologis
a.
Pendidikan
adalah perlu karena anak manusia dilahirkan tidak berdaya.
b.
Anak
manusia lahir tidak dilengkapi insting yang sempurna untuk dapat menysuaikan
diri dalam menghadapi lingkungan.
c.
Anak
manusia perlu masa belajar yang panjang sebagai persiapan untuk dapat secara
tepat berhubungan dengan lingkungan secara konstruktif.
d.
Awal
pendidikan terjadi setelah anak manusia mencapai penyesuaian jasmani (anak
dapat berjalan sendiri, dapat makan sendiri, dapat menggunakan tangan sendiri)
atau mencapai keebasan fisik dan jasmani.
2.
Implikasi
a.
Anak
manusia yang tidak menerima bantuan dari manusia lainnya yang telah dewasa akan
tidak menjadi manusia yang berbudaya atau bahkan mati.
b.
Anak
memerlukan perlindungan dan perawatan, sebagai masa persiapan pendidikan.
c.
Kemampuan
pendidikan terbatas.
d.
Orang
dewasa yang tidak berhasil di didik perlu pendidikan kembali atau redukasi.
3.
Dasar sosio-antropologis
a.
Peradaban
tidak terjadi dengan sendirinya dimiliki oleh setiap anggota masyarakat.
b.
Setiap
anggota masyarakat perlu menguasai budaya kelompoknya yang berupa warisan
sosial atau budaya.
c.
Masyarakat
menginginkan kehiduan yang beradab.
d.
Diperlukan
transformasi dari organisme biologis ke organisme yang berbudaya.
e.
Diperlukan
transmisi budaya.
f.
Diperlukan
internalisasi budaya.
g.
Diperlukan
kontrol sosial untuk pelestarian budaya.
h.
Pendidikan
= personalisasi peranan sosial budaya (personalisasi peradaban).[4]
E.
Karakteristik Manusia
Florence
Litteur, penulis buku terlaris “Personality Plus” seperti dikutip Fauzone
(2009) menguraikan, ada empat pola watak dasar atau karakter manusia.Keempat
karakter tersebut adalah 1) sanguinis/yang populer, 2) koleris/yang kuat,
3)melankolis/yang sempurna, dan 4) plegmatis/yang damai. Keempat karakter
tersebut 3 masing-masing memiliki nilai positif dan negatif. Manusia jarang
hanya memiliki satu model karakter, acapkali merupakan kombinasi dari dua,
tiga, atau bahkan keempat karakter tersebut. Yang membedakan antara satu dengan
lainnya adalah karakter mana yang lebih menonjol atau mendominasi. Sementara
itu, Yunmar dan Phoa (2013) menyatakan bahwa teori tentang pembagian keempat karakter
atau watak atau tempramen manusia tersebut, awalnya diciptakan oleh
Hippocrates. Menurut Yunmar dan Phoa (2013) masing-masing karakter tersebut
memiliki ciri khas tersendiri, seperti diuraikan berikut.
Sanguinis:
golongan ini cenderung ingin populer, ingin disenangi orang lain. Hidupnya
penuh dengan warna. Mereka senang bicara. Emosinya meledak-ledak dan transparan.
Pada suatu saat ia bisa berteriak, beberapa saat kemudian bisa menangis. Orang
sanguinis sedikit pelupa, sulit berkonsentrasi, cenderung berpikir pendek, dan
hidupnya tak teratur.
Koleris:
golongan ini suka mengatur dan memerintah orang. Akibat sifat ini, banyak dari
mereka yang tidak punya teman. Orang koleris senang tantangan dan petualangan.
Mereka goal oriented, tegas, kuat, cepat dan tangkas mengerjakan sesuatu.
Baginya tidak ada istilah tidak mungkin. Kalau sudah mengobarkan semangat, maka
hampir dapat dipastikan apa yang akan dilakukannya akan tercapai seperti yang diidamkan.
Golongan koleris tidak mudah menyerah dan mengalah.
Melankolis:
agak berbeda dengan sanguinis. Golongan melankolis cenderung teratur, rapi,
terjadwal, tersusun sesuai pola. Umumnya mereka suka dengan fakta, data, angka
dan memikirkan segala sesuatu mendalam. Bila dalam sebuah pertemuan, orang
sanguinis mendominasi pembicaraan, orang melankolis cenderung menganalisa, memikirkan,
mempertimbangkan. Kalau berbicara apa yang ia katakan telah dipikirkan secara
mendalam. Selalu ingin serba sempurna dan tertata.
Plegmatis:
kelompok ini tidak suka konflik, karena itu apa saja akan dilakukan, sekalipun
mereka tidak suka. Baginya kedamaian adalah segala-galanya. Jika timbul masalah,
ia akan berusaha mencari solusi damai. Mereka mau merugi bahkan rela sakit, asalkan
masalahnya tidak berkepanjangan. Kaum plegmatis kurang bersemangat, kurang
teratur dan serba dingin. Cenderung diam, kalem, dan bila memecahkan masalah umumnya
sangat menyenangkan. Dengan sabar ia mau menjadi pendengar yang baik, 4 tapi
kalau disuruh untuk mengambil keputusan mereka cenderung menunda-nunda.[5]
BAB
III
SIMPULAN
1.
Makna Pendidikan
Pendidikan merupakan suatu perbuatan, suatu
tindakan, suatu “praktek”. Istilah “praktek” disini bukan berarti yang mudah,
yang sederhana, yang tidak perlu pemikiran. Istilah “praktek” atau “praktis”
disini berarti penuangan teori kedalam praktek, sehingga praktek pendidikan itu
jelas garisnya, jelas dasar dan arahnya.
2.
Prinsip Dasar
Pendidikan
Prinsip diartikan sebagai permulaan, yang
dengan suatu cara tertentu melahirkan hal-hal lain, yang keberadaannya
tergantung dari pemula itu. Jadi kalau kita berbicara tentang prinsip
pendidikan, maka pelaksanaan pendidikan itu tergantung atau digariskan oleh
prinsip-prinsip tersebut yang menggariskannya.
3.
Tujuan Pendidikan
Tujuan pendidikan ialah untuk
menjalankan tiga fungsi yang semuanya bersifat normatif. Pertama, menentukan
haluan bagi proses pendidikan. Kedua, sekaligus dengan pelaksanaan penentuan
yang dituju ialah memberikan rangsangan. Maksudnya, jika haluan dan proses
pendidikan itu dipandan bernilai, dan ia diingini, maka tentulah akan mendorong
pelajar mengerluarkan tenaga yang diperlukan. Akhirnya, pendidikan itu
mempunyai fungsi untuk menjadi kriteria dalam menilai poses pendidikan.
4.
Keharusan Pendidikan
Ada beberapa alasan dasar mengapa
anak didik harus di didik, diantaranya sebagai berikut :
a) Dasar biologis ;
b) Implikasi;
c) Dasar Sosio-antropologis.
5.
Karakteristik manusia
a)
Sanguinis;
b)
Koleris;
c)
Melankolis;
d)
Plegmatis.
DAFTAR
PUSTAKA
An-Nahlawi Abdurahman, Prinsip-prinsip dan metoda, cetakan III,
IKAPI 1996
Langgulung Hasan, Manusia dan Pendidikan, cetakan II,
Radar Jaya Offset, Jakarta 1989
Ahardjo Redja Mudy, Pengantar Pendidikan, cetakan ke-8, PT
RAJAGRAFINDO PERSADA, 2013
http://www.fkh.unud.ac.id/ind/wp-content/uploads/2014/09/Pnddkn-Karakter-Bngs-NS-Dharmawan-2014.pdf
Dikutip Pada Hari Rabu Tanggal 18-02 2015 jam 22:06 WIB
[1] Abdurahman An-Nahlawi, Prinsip-prinsip
dan metoda, cetakan III, IKAPI 1996, hlm 13
[2] Ibid. Hlm 15
[3] Prof. Dr. Hasan Langgulung, Manusia
dan Pendidikan, cetakan II, Radar Jaya Offset, Jakarta 1989, hlm 102-103
[4] Redja Mudy Ahardjo, Pengantar
Pendidikan, cetakan ke-8, PT RAJAGRAFINDO PERSADA, 2013, hlm 33-34
[5] http://www.fkh.unud.ac.id/ind/wp-content/uploads/2014/09/Pnddkn-Karakter-Bngs-NS-Dharmawan-2014.pdf
Dikutip Pada Hari Rabu 18-02 2015 jam 22:06 WIB
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Setelah membaca, silahakan tinggalkan komentar :)