Senin, 16 November 2015

MAKALAH ORIENTASI PENDIDIKAN (Makna,Dasar-Dasar, Tujuan, Karakteristik Manusia)

BAB II
PEMBAHASAN
A.                Makna Pendidikan
Pendidikan merupakan suatu perbuatan, suatu tindakan, suatu “praktek”. Istilah “praktek” disini bukan berarti yang mudah, yang sederhana, yang tidak perlu pemikiran. Istilah “praktek” atau “praktis” disini berarti penuangan teori kedalam praktek, sehingga praktek pendidikan itu jelas garisnya, jelas dasar dan arahnya.[1]
Sekaitan dengan pendidikan inilah kita lihat ketetapan ungkapan seseorang yang menyatakan:”Tidak ada yang lebih praktis dari suatu teori yang baik”. Artinya suatu perbuatan hanya akan berlangsung baik dan lancar, manakala jelas garisnya, jelas dasar dan tujuannya.
Jadi, walaupun pendidikan merupakan suatu perbuatan, suatu tindakan, namun bukan suatu tindakan dan perbuatan yang sekedar lahiriah, bukan sekedar rangkaian gerak, bukan prilaku kosong.
Memang ada sementara pihak yang memandang perbuatan pendidikan dan pengajaran itu sebagai suatu rangkaian gerak, dan perbuatan tersebut diartikan secara “molekuler” artinya, dilihat dari bawah, dari unsur-unsurnya yang terkecil.
Untuk pendidikan, pengertian perbuatan atau tindakan pendidikan seperti itu tidak tepat. Perbuatan lebih tepat lagi tindakan pendidikan hendaknya tidak diartikan secara molekuler, yang didasarkan pada bagian-bagiannya yang terkecil (gerak,refleks dan sebagainya), melainkan harus diartikan secara menyeluruh (“molair”). Sebab pendidikan tidak dilaksanakan untuk pendidikan itu sendiri, melainkan diarahkan pada pencapaian maksud dan tujuan di waktu mendatang. Dimensi waktu dalam pendidikan tidak hanya menyangkut waktu sekarang, saat dilaksanakannya pendidikan itu, melainkan diarahkan kepada sikap,prilaku dan kemampuan serta pengetahuan yang diharapkan kelak dapat menjadi pegangan si terdidik dalam melaksanakan tugas hidupnya secara bertanggung jawab.
Kita juga harus memperhatikan masa lalu anak itu yang berpengaruh terhadap kehidupannya sekarang dan karena itu terhadap pola pelaksanaan pendidikan.
Dalam karya Abdurrahman an-Nahlawi pendidikan tidak diartikan sesempit yang digambarkan sebagai tindakan molekuler itu, maka pendidikan yang merupakan perbuatan dan tindakan itu dilihat dalam konteks yang lebih menyeluruh dan mendalam. Pendidikan dikaitkan, bahkan didasarkan dan diturunkan dari ajaran islam. Dengan demikian pendidikan dalam artian ini kokoh dasarnya, jelas arah dan tujuannya.
Hanya bila kokoh dasarnya dan jelas arahnya itulah, pelaksanaannya akan lancar dan tidak sekedar terbawa implus atau gejolak hati sesaat, tidak akan sekedar merupakan pelampiasan hawa nafsu (misalnya pemberian hukuman pendidikan, tidak didorong oleh luapan hawa nafsu atau kedengkian, melainkan lebih sebagai peringatan).
Dalam suatu bahasan mengenai pendidikan yang bertolak dari pola pikir tentang padunya aspek teoretis (“prinsip-prinsip”) dengan aspek praktis (“metoda”) tidak akan memberi tempat kepada pelaksanaan pendidikan yang semena-mena, yang sekedar digerakkan oleh gejolak hati serta diarahkan kepada pemenuhan kebutuhan sesaat.
B.                 Prinsip Dasar Pendidikan
Prinsip diartikan sebagai permulaan, yang dengan suatu cara tertentu melahirkan hal-hal lain, yang keberadaannya tergantung dari pemula itu. Jadi kalau kita berbicara tentang prinsip pendidikan, maka pelaksanaan pendidikan itu tergantung atau digariskan oleh prinsip-prinsip tersebut yang menggariskannya. Demikian pula cara atau metoda pendidikan (yang lebih menyangkut segi pelaksanaan) tidak dapat dilepaskan dari berbagai prinsip yang melandasinya, baik metodanya itu sendiri, maupun prinsip-prinsip yang melandasi pendidikannya.[2]
Adanya berbagai pendidikan mengenai manusia, mengenai perbuatan manusia, mengenai tujuan hidup manusia, mengenai pertauan antara manusia dengan lingkungannya, dengan waktu, dan sebagainya, melahirkan berbagai pandangan tentang pendidikan dan berbagai metode pendidikan.
C.                Tujuan Pendidikan
            Tujuan pendidikan ialah untuk menjalankan tiga fungsi yang semuanya bersifat normatif. Pertama, menentukan haluan bagi proses pendidikan. Kedua, sekaligus dengan pelaksanaan penentuan yang dituju ialah memberikan rangsangan. Maksudnya, jika haluan dan proses pendidikan itu dipandan bernilai, dan ia diingini, maka tentulah akan mendorong pelajar mengerluarkan tenaga yang diperlukan. Akhirnya, pendidikan itu mempunyai fungsi untuk menjadi kriteria dalam menilai poses pendidikan.
            Dalam bagian ini yang menjadi tumpuan utama adalah tujuan-tujuan yang akan menetukan haluan pendidikan. Dalam bagian yang berkenaan dengan pelaksanaan pendidikan kita akan bincangkan tujuan sebagai perangsang terhadap proses pendidikan. Manakala bagian mengenai penilaian kita akan bincangkan tujuan sebagai kriteria dalam menilai prosese pendidikan.
            Tujuan pendidikan sebagai alat untuk menentukan haluan pendidikan itu dapat dilihat tiga tahap, yaitu tujuan khusus (objektives), tujuan umum( wales), dan tujuan akhir aims. Bila digunakan dalam kurikulum maka tiga tahap tujuan ini masing-masing mencakup aspek tertentu dari tujuan itu. Kita ambil misalnya tujuan pelajaran kimia sebagai berikut:
1.             Murid-murid akan menguasai prinsip-prinsip ilmu kimia (tujuan khusus).
2.             Murid-murid akan sanggup berfikir secara kritis (tujuan umum).
3.             Murid-murid akan mencapai perwujudan diri (tujuan akhir).
Kalau perbincangan itu kita lanjutkan lagi maka ia akan menunjukan kaitan dengan tujuan hidup yang kerap kali lebih tepat disebut sebagai tujuan terakhir (ultimate aim).[3]
D.                Keharusan Pendidikan
            Ada beberapa alasan dasar mengapa anak didik harus di didik, diantaranya sebagai berikut :
1.             Dasar biologis
a.              Pendidikan adalah perlu karena anak manusia dilahirkan tidak berdaya.
b.             Anak manusia lahir tidak dilengkapi insting yang sempurna untuk dapat menysuaikan diri dalam menghadapi lingkungan.
c.              Anak manusia perlu masa belajar yang panjang sebagai persiapan untuk dapat secara tepat berhubungan dengan lingkungan secara konstruktif.
d.             Awal pendidikan terjadi setelah anak manusia mencapai penyesuaian jasmani (anak dapat berjalan sendiri, dapat makan sendiri, dapat menggunakan tangan sendiri) atau mencapai keebasan fisik dan jasmani.
2.             Implikasi
a.              Anak manusia yang tidak menerima bantuan dari manusia lainnya yang telah dewasa akan tidak menjadi manusia yang berbudaya atau bahkan mati.
b.             Anak memerlukan perlindungan dan perawatan, sebagai masa persiapan pendidikan.
c.              Kemampuan pendidikan terbatas.
d.             Orang dewasa yang tidak berhasil di didik perlu pendidikan kembali atau redukasi.
3.             Dasar sosio-antropologis
a.              Peradaban tidak terjadi dengan sendirinya dimiliki oleh setiap anggota masyarakat.
b.             Setiap anggota masyarakat perlu menguasai budaya kelompoknya yang berupa warisan sosial atau budaya.
c.              Masyarakat menginginkan kehiduan yang beradab.
d.             Diperlukan transformasi dari organisme biologis ke organisme yang berbudaya.
e.              Diperlukan transmisi budaya.
f.              Diperlukan internalisasi budaya.
g.             Diperlukan kontrol sosial untuk pelestarian budaya.
h.             Pendidikan = personalisasi peranan sosial budaya (personalisasi peradaban).[4]
E.            Karakteristik Manusia
Florence Litteur, penulis buku terlaris “Personality Plus” seperti dikutip Fauzone (2009) menguraikan, ada empat pola watak dasar atau karakter manusia.Keempat karakter tersebut adalah 1) sanguinis/yang populer, 2) koleris/yang kuat, 3)melankolis/yang sempurna, dan 4) plegmatis/yang damai. Keempat karakter tersebut 3 masing-masing memiliki nilai positif dan negatif. Manusia jarang hanya memiliki satu model karakter, acapkali merupakan kombinasi dari dua, tiga, atau bahkan keempat karakter tersebut. Yang membedakan antara satu dengan lainnya adalah karakter mana yang lebih menonjol atau mendominasi. Sementara itu, Yunmar dan Phoa (2013) menyatakan bahwa teori tentang pembagian keempat karakter atau watak atau tempramen manusia tersebut, awalnya diciptakan oleh Hippocrates. Menurut Yunmar dan Phoa (2013) masing-masing karakter tersebut memiliki ciri khas tersendiri, seperti diuraikan berikut.
Sanguinis: golongan ini cenderung ingin populer, ingin disenangi orang lain. Hidupnya penuh dengan warna. Mereka senang bicara. Emosinya meledak-ledak dan transparan. Pada suatu saat ia bisa berteriak, beberapa saat kemudian bisa menangis. Orang sanguinis sedikit pelupa, sulit berkonsentrasi, cenderung berpikir pendek, dan hidupnya tak teratur.
Koleris: golongan ini suka mengatur dan memerintah orang. Akibat sifat ini, banyak dari mereka yang tidak punya teman. Orang koleris senang tantangan dan petualangan. Mereka goal oriented, tegas, kuat, cepat dan tangkas mengerjakan sesuatu. Baginya tidak ada istilah tidak mungkin. Kalau sudah mengobarkan semangat, maka hampir dapat dipastikan apa yang akan dilakukannya akan tercapai seperti yang diidamkan. Golongan koleris tidak mudah menyerah dan mengalah.
Melankolis: agak berbeda dengan sanguinis. Golongan melankolis cenderung teratur, rapi, terjadwal, tersusun sesuai pola. Umumnya mereka suka dengan fakta, data, angka dan memikirkan segala sesuatu mendalam. Bila dalam sebuah pertemuan, orang sanguinis mendominasi pembicaraan, orang melankolis cenderung menganalisa, memikirkan, mempertimbangkan. Kalau berbicara apa yang ia katakan telah dipikirkan secara mendalam. Selalu ingin serba sempurna dan tertata.
Plegmatis: kelompok ini tidak suka konflik, karena itu apa saja akan dilakukan, sekalipun mereka tidak suka. Baginya kedamaian adalah segala-galanya. Jika timbul masalah, ia akan berusaha mencari solusi damai. Mereka mau merugi bahkan rela sakit, asalkan masalahnya tidak berkepanjangan. Kaum plegmatis kurang bersemangat, kurang teratur dan serba dingin. Cenderung diam, kalem, dan bila memecahkan masalah umumnya sangat menyenangkan. Dengan sabar ia mau menjadi pendengar yang baik, 4 tapi kalau disuruh untuk mengambil keputusan mereka cenderung menunda-nunda.[5]


BAB III
SIMPULAN
1.             Makna Pendidikan
Pendidikan merupakan suatu perbuatan, suatu tindakan, suatu “praktek”. Istilah “praktek” disini bukan berarti yang mudah, yang sederhana, yang tidak perlu pemikiran. Istilah “praktek” atau “praktis” disini berarti penuangan teori kedalam praktek, sehingga praktek pendidikan itu jelas garisnya, jelas dasar dan arahnya.
2.             Prinsip Dasar Pendidikan
Prinsip diartikan sebagai permulaan, yang dengan suatu cara tertentu melahirkan hal-hal lain, yang keberadaannya tergantung dari pemula itu. Jadi kalau kita berbicara tentang prinsip pendidikan, maka pelaksanaan pendidikan itu tergantung atau digariskan oleh prinsip-prinsip tersebut yang menggariskannya.
3.             Tujuan Pendidikan
            Tujuan pendidikan ialah untuk menjalankan tiga fungsi yang semuanya bersifat normatif. Pertama, menentukan haluan bagi proses pendidikan. Kedua, sekaligus dengan pelaksanaan penentuan yang dituju ialah memberikan rangsangan. Maksudnya, jika haluan dan proses pendidikan itu dipandan bernilai, dan ia diingini, maka tentulah akan mendorong pelajar mengerluarkan tenaga yang diperlukan. Akhirnya, pendidikan itu mempunyai fungsi untuk menjadi kriteria dalam menilai poses pendidikan.
4.             Keharusan Pendidikan
            Ada beberapa alasan dasar mengapa anak didik harus di didik, diantaranya sebagai berikut :
a)      Dasar biologis ;
b)      Implikasi;
c)      Dasar Sosio-antropologis.

5.             Karakteristik manusia
a)             Sanguinis;
b)             Koleris;
c)             Melankolis;
d)            Plegmatis.



DAFTAR PUSTAKA
An-Nahlawi Abdurahman, Prinsip-prinsip dan metoda, cetakan III, IKAPI 1996
Langgulung Hasan, Manusia dan Pendidikan, cetakan II, Radar Jaya Offset, Jakarta 1989
Ahardjo Redja Mudy, Pengantar Pendidikan, cetakan ke-8, PT RAJAGRAFINDO PERSADA, 2013
http://www.fkh.unud.ac.id/ind/wp-content/uploads/2014/09/Pnddkn-Karakter-Bngs-NS-Dharmawan-2014.pdf Dikutip Pada Hari Rabu Tanggal 18-02 2015 jam 22:06 WIB




[1] Abdurahman An-Nahlawi, Prinsip-prinsip dan metoda, cetakan III, IKAPI 1996, hlm 13
[2] Ibid. Hlm 15
[3] Prof. Dr. Hasan Langgulung, Manusia dan Pendidikan, cetakan II, Radar Jaya Offset, Jakarta 1989, hlm 102-103
[4] Redja Mudy Ahardjo, Pengantar Pendidikan, cetakan ke-8, PT RAJAGRAFINDO PERSADA, 2013, hlm 33-34
[5] http://www.fkh.unud.ac.id/ind/wp-content/uploads/2014/09/Pnddkn-Karakter-Bngs-NS-Dharmawan-2014.pdf Dikutip Pada Hari Rabu 18-02 2015 jam 22:06 WIB

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Setelah membaca, silahakan tinggalkan komentar :)