Minggu, 15 November 2015

MANIVESTASI/PERWUJUDAN PRILAKU BELAJAR

Manivestasi atau perwujudan dari perubahan hasil belajar  siswa menurut sebagian para ahli  yang lebih sering tampak atau muncul dalam perubahan-perubahannya terdapat sembilan jenis perubahan, yaitu sebagai berikut : 1) kebiasaan; 2) keterampilan; 3) pengamatan; 4) berpikir asosiatif dan daya ingat; 5) berpikir rasional dan kritis; 6) sikap; 7) inhibisi; 8) apresiasi; 9) tingkah laku afektif.

1.    Manivestasi Kebiasaan (habits)
Setiap siswa yang telah mengalami proses belajar, kebiasaan-kebiasannya akan tampak berubah. Menurut Burghardt (1973), kebiasaan ini terjadi karena proses penyusutan kecenderungan respons dengan menggunakan simulasi yang berulang-ulang dalam proses belajar, pembiasaan juga meliputi pengurangan prilaku yang tidak diperlukan. Karena proses penyusutan/ pengurangan inilah muncul suatu pula bertingkah laku yang baru relatif menetap dan otomatis
Kebiasaaan ini terjadi karena prosedur pembiasaan seperti dalam classical dan operant conditioning . Contoh : siswa yang belajar bahasa berkali-kali menghindari kecenderungan penggunaan kata atau struktur yang keliru, akhirnya akan terbiasa dengan penggunaan bahasa yang baik dan benar. Jadi berbahasa dengan cara baik dan benar itulah perwujudan prilaku siswa tadi.
2.    Manivestasi Keterampilan (ability)
Keterampilan adalah kegiatan yang berhubungan dengan urat syaraf dan otot-otot (neuromuscular) yang lazimnya tampak dalam kegiatan jasmaniah seperti menulis, mengetik, olahraga dan sebagainya. Meskipun sifatnya motorik, namun keterampilan itu memerlukan koordinasi gerak yang teliti dan kesadaran yang tinggi. Dengan demikian siswa yang melakukan gerak dengan koordinasi dan kesadaran yang rendah dapat dianggap kurang atau tidak terampil.
Disamping itu, Menurut Reber (1988), keterampilan adalah kemampuan melakukan pola-pola tingkah laku yang kompleks dan tersusun rapi secara mulus dan sesuai dengan keadaan untuk mencapai hasil tertentu. Keterampilan bukan hanya meliputi gerakan motorik melainkan juga pengejawantahan fungsi mental yang bersifat kognitif. Konotasinya pun luas sehingga sampai pada mempengaruhi atau menyalahgunakan orang lain. Artinya orang yang mampu menyalahgunakan orang lain secara tepat juga dianggap sebagai orang yang terampil.
3.    Manivestasi Pengamatan (receive)
Pengamatan artinya proses menerima, menafsirkan, dan memberi rangsangan yang masuk melalui indera-indera seperti telinga dan mata. Berkat pengalaman belajar seorang siswa akan mampu mencapai pengamatan yang benar obyektif sebelum mencapai pengertian. Pengamatan yang salah akan mengakibatkan timbulnya pengertian yang salah pula. Sebagai contoh, seorang anak yang baru pertama kali mendengarkan radio akan mengira bahwa penyiar benar-benar berada dalam kotak bersuara itu. Namun melalui proses belajar, lambat laun akan diketahui juga bahwa yang ada dalam radio tersebut hanya suaranya, sedangkan penyiarnya berada jauh di studio pemancar.
4.    Manivestasi Berpikir Asosiatif dan Daya Ingat (asosiative thingking and memory)
Secara sederhana, berpikir asosiatif adalah berpikir dengan cara mengasosiasikan sesuatu dengan lainnya. Berpikir asosiatif merupakan proses pembentukan hubungan antara rangsangan dan respons. Sebagai contoh siswa mampu menjelaskan arti penting tanggal  12 Rabiul Awal, kemampuan siswa tersebut dalam mengasosiasikan tanggal bersejarah itu dengan hari ulang tahun (maulid) Nabi Muhammad Saw. Hanya bisa didapat apabila ia telah mempelajari riwayat hidup beliau.
Disamping itu, daya ingat pun merupakan perwujudan belajar, sebab merupakan unsur pokok dalam berpikir asosiatif. Jadi siswa yang telah mengalami proses belajar akan ditandai dengan bertambahnya simpanan materi (pengetahuan dan pengertian) dalam memori, serta meningkatnya kemampuan menghubungkan materi tersebut dengan situasi atau stimulus yang sedang ia hadapi.
5.    Manivestasi Berpikir  Rasional dan Kritis (rational thingking and critical)
Berpikir rasional dan kritis adalah perwujudan prilaku belajar terutama yang bertalian dengan pemecahan masalah. Pada umumnya siswa yang berpikir rasional akan menggunakan prinsip-prinsip dan dasar-dasar pengertian dalam menjawab pertanyaan : “bagaimana” (how) dan “mengapa” (why). Dalam berpikir rasional , siswa dituntut menggunakan logika (akal sehat) untuk menentukan sebab akibat, menganalisis, menarik kesimpulan-kesimpulan, dan bahkan juga menciptakan hukum-hukum (kaidah teoretis) dan ramalan-ramalan.
Dalam hal berpikir kritis, siswa dituntut menggunakan strategi kognitif tertentu yang tepat untuk menguji keandalan gagasan, pemecahan masalah, dan mengatasi kesalahan atau kekurangan (Reber, 1988).
6.    Manivestasi Sikap (attitude)
Dalam arti yang sempit, sikap adalah pandangan atau kecenderungan mental. Menurut Bruno (1987) , sikap (attitude) adalah kecenderungan yang relatif menetap untuk bereaksi dengan cara baik atau buruk terhadap orang atau barang tertentu. Dengan demikian, pada prinsipnya sikap itu dapat kita anggap suatu kecenderungan siswa untuk bertindak dengan cara tertentu. Dalam hal ini, perwujudan prilaku belajar siswa akan ditandai dengan munculnya kecenderungan-kecenderungan baru yang telah berubah (lebih maju dan lugas) terhadap suatu objek, tata nilai, peristiwa dan sebagainya.
7.    Manivestasi Inhibisi (inhibition)
Secara ringkas, inhibisi adalah upaya pengurangan atau pencegahan timbulya suatu respon tertentu karena adanya proses respon lain yang sedang berlangsung (Reber, 1988). Dalam hal belajar, yang dimaksud dengan inhibisi ialah kesanggupan siswa untuk mengurangi atau menghentikan tindakan yan tidak perlu, lalu memilih atau melakukan tindakan lainnya yang lebih bai ketika ia berinteraksi dengan lingkungannya.
Kemampuan siswa dalam melakukan inhibisi pada umumnya diperoleh lewat hasil belajar. Oleh sebab itu, makna dan perwujudan prilaku belajar seorang siswa akan tampak pula dalam kemampuannya melakukan inhibisi ini. Contoh seorang siswa yang telah sukses mempelajari bahaya alkohol akan menghindari membeli miniman keras. Sebagai gantinya ia membeli minuman sehat, susu misalnya.
8.    Manivestasi Apresiasi (apreation)
Pada dasarnya, apresiasi berarti suatu pertimbangan (judgment) mengenai arti penting atau nilai sesuatu (Chalvin 1982). Dalam penerapannya, apresiasi sering diartikan sebagai penghargaan atau penilaian terhadap benda-benda baik abstrak maujpun kongkrit yang memiliki nilai luhur. Apresiasi adalah gejala ranah afektif yang pada umumnya ditujukan pada karya-karya seni budaya, seperti : seni sastra, seni musik, seni lukis, drama, dan sebagainya.
Tingkat apresiasi seorang siswa terhadap nilai sebuah karya sangat bergantung pada tingkat pengalaman belajarnya. Sebagai contoh jika seorang siswa telah mengalami proses belajar agama secara mendalam maka tingkat apresiasinya terhadap nilai seni baca Al-Qur’an dan kaligrafi akan mendalam pula. Dengan demikian, pada dasarnya seorang siswa baru akan memiliki apresiasi yang memadai terhadap objek terteentu (misalnya kaligrafi) apabila sebelumnya ia telah mempelajari materi yang berkaitan dengan objek yang dianggap mengandung nilai penting dan indah tersebut.
9.    Manivestasi Tingkah Laku Afektif (behaviour afektif)
Tingkah laku apektif adalah tingkah laku yang menyangkut keanekaragaman perasaan, seperti : takut, marah, sedih, gembira, kecewa, senang, benci, was-was dan sebagainya. Tingkah laku seperti ini tidak terlepas dari pengaruh pengalaman belajar. Oleh karenanya, ia juga dapat dianggap sebagai perwujudan prilaku belajar .

Seorang siswa misalnya, dapat dianggap sukses secara apektif dalam belajar agama apabila ia telah menyenangi dan menyadari dengan ikhlas kebenaran dan ajaran agama yang ia pelajari, lalu menjadikannya sebagai “ sistem nilai diri”. Kemudian, pada gilirannya ia menjadikan sistem nilai ini sebagai panutan hidup, baik dikala suka maupun duka (Drajat 1985).

Terimakasih Semoga Bermanfa'at :) !

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Setelah membaca, silahakan tinggalkan komentar :)